French Fries

“Ini kenapa ada rendaman kentang disini?”

“O, itu nunggu dua jam.”

“Dua jam?”

“Iya. Kalo bikin french fries yang enak, potongan kentangnya direndam dalam air garam sampai dua jam.”

“Cuma air garam?”

“Iya. Kecuali kalo mau tambah rasa lain.”

Dia meniriskan air rendaman kentang.

“Ini bisa langsung digoreng?”

“Iya. Langsung aja. Kalo mau disimpan di kulkas, mending digoreng dulu setengah matang. Dinginkan, baru dimasukkan freezer.”

Dia memanaskan minyak dalam wajan.

“Minyaknya harus panas dan banyak, sampai kentangnya tenggelam. Tapi masaknya jangan terlalu lama.”

Bunyi mendesis keras dan asap membumbung, ketika kentang masuk ke dalam penggorengan.

“Hati-hati kena cipratan minyak. Soalnya kan ada tetesan air garam tadi.”

Tak butuh waktu lama, kentang sudah kekuningan, tanda matang. Ditiriskan, lalu pindah ke atas piring. Menggoda.

“Nah! Sekarang tinggal cocolan saus sambal dan saus tomat.”

“Errr…”

“Kenapa?”

“Habis dua-duanya. Aku belum beli. Adanya sambal terasi botolan.”

“…..”

 

Bakpia

Dia meletakkan dua kotak berwarna merah di meja.

“Bakpia. Oleh-oleh temen pulang dari Jogja.”

Kotak pertama dibuka. Tampilan bakpia pada umumnya. Nggak ada bedanya.

“Coba, deh. Yang ini lain.”

Aku ambil satu. Menggigitnya. Mengunyahnya. Dan…

“Iya, kan?”

Aku mengangguk.

“Apanya yang bikin beda, yah? Secara tampilannya sama gini?”

“Katanya sih kacang hijaunya dipilih yang berkualitas bagus. Dan kulit kacang hijaunya dibuang. Makanya jadi lembut.”

Aku manggut-manggut. Kami kembali tekun dengan bakpia masing-masing.

“Ini kenapa oleh-olehnya banyak? Tumben ampe ngasih dua kotak gini?”

“Yang itu beda.”

Dia membuka kotak yang satu lagi.

“Yang ini oplosan macem-macem rasa.”

“Macem-macem?”

“Iya. Ada keju, cokelat, susu, strawberry, banyak deh.”

Aku mengangkat alis. Inovasi, ceritanya.

“Coba, deh. Aku tadi nyoba, pas dapet yang cokelat. Enak.”

Aku mengambil satu. Menggigitnya. Mengunyahnya. Rasa apa ini, yah? Dan…

“Aaaaa!!!”

“Apa?”

“Rasa duren!”

“…..”

Cheeseburger

Dia menyodorkan piring padaku. Diatasnya, seporsi cheeseburger original. Aku melotot.

“Apa-apaan ini?”

“Tau nggak? Tadi aku lewat gerai fastfood. Nggak sengaja liat anak makan cheeseburger. Nggak tau kenapa kok jadi inget kamu. Ya udah, aku beli satu.”

“Apa hubungannya aku sama cheeseburger?”

“Kapan terakhir makan cheeseburger?”

Aku diam. Agak lama.

“Lupa, kan?”

Aku mengangguk.

“Kelamaan diet, sih.”

Aku mengerutkan dahi.

“Tau nggak? Aku lama-lama curiga. Kamu ini diet atau anorexia?”

Kali ini aku melotot lagi.

“Serius. Rada kebangetan, deh. Kalo dipikir, makanan yang dimakan sehari-hari, gizinya kurang. Konsultasi dong sama ahli gizi. Jangan diet sembarangan.”

“Terus, apa hubungannya sama cheeseburger?”

Dia pergi ke dapur dan kembali dengan sebilah pisau. Dipotongnya cheeseburger jadi dua.

“Makan.”

Aku melihat kearahnya.

“Iya. Makan. Kamu pasti nolak.”

Aku mengangguk.

“Ini cheeseburger, Sayang. Memang bukan makanan sehat. Tapi nggak haram. Nggak tiap hari juga kamu makan ini. Nggak akan seketika merubah angka timbangan. At least, makan setengahnya aja dulu. Guilty pleasure, yes. Tempting, off course. Tapi seenggaknya ini bisa buktiin kalo kamu nggak sakit jiwa. Makan dan dinikmati. Habiskan kalo perlu.”

Aku bengong. Lalu menatap cheeseburger. Kuambil setengah. Kugigit. Kejunya meleleh diantara daging sapi cacah. Enak sekali. Entah kapan terakhir aku menikmatinya. Rasanya sudah terlalu lama.

Kulihat dia tersenyum ketika aku mengambil potongan yang tersisa dimeja.

“Kalo masih kurang, bilang aja. Ntar aku belikan lagi.”

Sekarang ganti aku yang tersenyum.

Beban di Pundak

Akhir-akhir ini sedang musim ujian. Dua minggu lalu, Ujian Negara untuk siswa kelas XII. Senin lalu giliran anak-anak kelas IX. Dua minggu lagi, murid kelas VI harus siap tempur. Well, good luck children 🙂

Kadang saya suka terbengong sendiri melihat anak sekolah masa kini. Terlepas dari sekarang bertebaran full day school. Apa anak sekolah sekarang begitu banyak buku dan perlengkapan yang harus dibawa, sehingga seakan mereka seperti anak yang akan pindah ke luar kota? Tas ransel yang begitu besar dan tampak sangat berat di punggung. Bahkan beberapa anak sekolah dasar justru membawa tas serupa koper kecil, lengkap dengan roda dan tuas penariknya.

Ternyata berat juga beban di pundak mereka. Ini baru arti secara harafiah. Nasib banyak orang juga ada di tangan mereka. Nasib para guru, kepala sekolah, bahkan sekolah mereka. Apa jadinya mereka tidak lulus dengan nilai baik? Guru tak jelas nasibnya, kepala sekolah di ‘mutasi’ entah kemana, dan peringkat sekolah bisa turun drastis. Bahkan orangtua turut malu, jika anaknya tak lulus dengan nilai baik dan di terima di sekolah favorit.

Bukankah tugas anak hanya belajar dan bermain? Melakukan keduanya dengan senang gembira? Bukannya ditambahi beban menanggung nasib orang lain?

Please. Kembalikan mereka ke dunianya.

Sushi

“Makisushi.”

“Enggak. Nigirisushi.”

“Yaelah. Musti nyari yang tumbuh-tumbuhan deh.”

“Kamu pasti nyari yang porsi besar, kan?”

Dia ketawa.

“Kalo nigirisushi ntar ada yang pake udang.”

“Makisushi ntar didalemnya udah dikasih wasabi. Bisa error aku nanti.”

“Mau makan kok ribet bener.”

“Udah…pesen sushi plater aja.”

“Eh iya, kenapa nggak kepikir?”

“Semua ada disitu kan?”

Dia mengangguk.

“Dua plater.”

“Gila! Satu aja.”

“Mana kenyang? Dua.”

Alamat tambah lapar kalau seperti ini ribetnya…

 

Lemper

“Lemper yang baik dan benar menurut pakem itu yang bagaimana?”

“Gini…”

Kami duduk manis.

“Itu beras ketan dimasak setengah matang dengan santan. Jangan lupa dikasih garam dikit biar lebih gurih.”

Kami mengangkat alis.

“Iya. Pake santan bukan cuma air. Kalo udah setengah matang, lalu diisi. Biasanya daging ayam atau abon, terserah. Terus dibentuk. Lalu dikukus sampai matang.”

Kami manggut-manggut.

Kalo udah matang, lempernya dibakar. Jadi aroma daun pisangnya nempel di lemper. Gitu.”

Kami melongo.

“Kalo prosesnya seperti itu, dijamin lemper awet lebih lama, walaupun pake santan.”

“O ya?”

“Iya. Paling enggak masih bisa ‘nginep’ semalam deh. Kalo lemper yang sering beredar sekarang kan suka nggak awet. Bikin pagi, sorenya udah basi.”

Kami masih mendengarkan.

“Apalagi sekarang lemper nggak lagi dibungkus daun pisang, tapi pake bungkus plastik warna hijau. Ini bener-bener pelecehan terhadap lemper!”

Kami saling lirik. Gini deh kalo ngomong sama pakar lemper…

 

Pizza

Beef pepperoni.”

No. Vegetable.”

“Aaaaa…nggak asik.”

“Alesan. Asik aja kali.”

“Oke. Ambil jalan tengah. Seafood.”

“Edan! Ada udangnya. Mau keracunan?”

“Eh…iya yah. Kalo gitu yang BBQ Chicken aja. Please…”

Mushroom and corn aja.”

“Hadeeeh! Segitu dietnya. Aku juga butuh protein.”

“Yowis, BBQ Chicken deh…”

“Aseeek. Tinggal telpon.”

“Gih sono di telpon.”

“Selebarannya kemaren dimana?”

“Aku taruh di meja tulis.”

“Kok nggak ada?”

“Diatas tumpukan brosur pameran.”

“Lah! Tadi pagi aku buang…”

“Jadi?”

Manyun.