Roti Gandum

“Reseh!”

“Biarin!”

Aku manyun. Dia melengos.

“Emang nggak ada, masa’ mo diada-adain?”

“Tapi aku maunya itu…”

“Yang lain?”

“Ogah.”

“Sekali-sekali aja…”

Kembali manyun.

“Aku kan udah bilang berkali-kali. Maunya roti gandum.”

“Tapi nggak ada. Tukang roti yang lewat, kehabisan. Yang di ruko sana, nggak jual roti gandum. Mana mendung udah gelap gini. Ribet.”

“Tapi kan demi kesehatan. Gitu kapan hari ngomong soal diabetes bla bla bla. Giliran mo maintain, nggak niat.”

“Bukannya nggak niat, tapi sikonnya nggak mendukung. Lagian kamu bilang kalo weekend waktunya ‘libur’, boleh makan segala. Udah, deh. Yang ada aja.”

“Tapi aku maunya roti gandum.”

Dia mengerutkan kening. Lalu nyengir. Aku curiga kalo dia sudah mulai seperti ini?”

“Apaan?”

“Kamu…”

“Aku? Kenapa?”

“Lagi…ngidam yaa…?”

“Enggak.”

“Ngaku aja.”

“Enggak!”

“Iya kali.”

“Enggak.”

Demikianlah. Entah sampai jam berapa debat kusir ini berlangsung.

 

2 thoughts on “Roti Gandum

  1. Momen seperti itu sepertinya jadi begitu membahagiakan.

    Ah, senangnya. Jadi pengin segera merasakan itu. Hihi. Debat kusir karena urusan ngidam.😛🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s