Buku Baru?

Aku membuka buku berukuran sedang. Hanya tinggal satu lembar kosong yang tersisa.

Dilema.

Haruskan ku beli yang baru? Atau buku ini akan jadi yang terakhir. Satu sisi, buku ini berisi tentangku. Tentang hidupku, tepatnya. Tentang bagaimana aku menghidupi diri selama ini. Bersejarah, juga sangat mencandu. Di sisi lain, aku lelah. Lelah melakoni hidup ini. Hidupku selama ini. Jadi, apa yang harus aku lakukan?

Ku buka lembar-lembar awal. Ada pas foto berwarna dari seorang gadis kecil. Rambutnya di kepang dua. Tersenyum manis dalam seragam sekolah dasarnya. Mana mungkin aku melupakannya? Ragu sempat berkali muncul saat bertatap muka kali pertama. Begitu muda, polos dan lucu. Aku masih ingat, betapa dia begitu menyayangi dan mempercayaiku. Tapi apa yang sudah aku lakukan? Atas nama profesionalitas, tanda silang dengan spidol merah menghiasi wajah ayunya di buku ini.

Ku balik halaman demi halaman. Dan terhenti pada foto seorang wanita muda. Sedang tertawa, tampak sangat bahagia. Tentu saja, dia sedang menunggu kelahiran anak pertama saat aku mengenalnya. Anggun, mandiri dan ceria. Perempuan yang berani keluar dari zona nyaman untuk mengejar cita-citanya. Perempuan yang selalu heboh bercerita tentang drama Korea. Perempuan yang sudah menyiapkan satu nama laki-laki dan satu nama perempuan, untuk anaknya kelak. Hatiku mencelos. Mubazir. Dia tak pernah sekalipun menggunakan nama-nama itu. Karena di buku ini, tanda silang spidol merah menghiasi di fotonya.

Aku mengambil jeda sejenak. Melepas pandangan dari buku di tangan. Mereka semua. Mereka yang fotonya dicoret dengan spidol merah. Apa yang akan terjadi bila tak ada tanda silang itu? Apa kabarnya? Dimana kiranya? Terkabulkah semua keinginan? Tercapaikah semua cita-cita? Aku menarik nafas panjang.

Ku buka lagi lembaran berikutnya. Berhenti pada halaman dengan foto wanita berusia matang. Auranya berwibawa. Wajahnya penuh percaya diri. Seolah dunia ini ada dalam kendali tangannya. Ku baca detil tulisan yang menyertai. Sederet gelar, jabatan dan riwayat hidup yang sanggup membuat minder semua jenis kelamin. Aku masih ingat, sesuatu yang membuatku harus bersinggungan dengannya. Orang yang hangat. Hanya karena satu dan lain hal, tanda silang dengan spidol merah menghiasi fotonya.

Ini dia! Laki-laki itu. Sebenarnya aku tak punya masalah dengannya. Tapi membaca deratan kasus yang menyertai, gatal tangan ini ingin menghentikan. Ada apa dengannya? Lahir dari batu? Apa kabar sopan santun dan tata krama? Agama berhenti di KTP? Atau sekolah hanya berwujud bangunan fisik? Entahlah. Sepertinya tak cukup hanya spidol merah tersilang di foto.

Aku masih mendengus kesal saat menemukan foto yang lain. Deretan tulisan dibawah menyeretku berubah sendu. Seorang laki-laki. Kepala keluarga. Suami. Ayah. Anak. Saudara. Pegawai. Tetangga. Orang pada umumnya. Tak lebih, juga tak kurang. Manusia biasa yang sederhana menjalani hidup. Sempat terbersit rasa berdosa saat menorehkan spidol merah di atas fotonya. Maafkan aku…

Aku menggelengkan kepala. Rasanya ini semua harus diakhiri. Tapi bagaimana mungkin? Lalu bagaimana dengan hidupku? Bagaimana aku memberi makan orang disekitarku?

Henti. Lanjut. Henti. Lanjut. Henti…

Terhenti pada sebuah foto. Orang yang ku kenal secara pribadi. Laki-laki yang sudah ku akrabi lama. Sejak kami masih sama-sama bermain di taman kanak-kanak. Tak ada yang salah sebenarnya. Pribadi yang hangat pula. Sukses dalam karir dan bangku pendidikan. Anak idaman semua orang tua. Sahabat baik bagi semua. Hingga seseorang muncul di antara kami. Otak dan hatiku piuh tak karuan. Dengan wajah pias, kusilangkan spidol merah di fotonya. Jelas, aku sudah di pengaruhi emosi. Dengan mengatasnamakan profesi, kuhalalkan cara ini untuk mengakhiri. Duh!

Aku malu. Fotomu yang bercoret spidol merah sungguh mempurukkanku. Tapi aku masih digelanyut dilema. Haruskah ku hentikan semua ini? Atau ku beli buku baru untuk melanjutkan yang sudah ku mulai?

Antara kelanjutan hidupku atau hidup orang lain. Orang-orang yang belum dan akan ku coret fotonya dengan spidol merah. Orang-orang yang harus ku sudahi hidupnya atas nama profesionalitas. Dengan cara apapun. Tamat. Selesai. Bayar. Pulang.

Henti. Lanjut. Henti. Lanjut. Henti. Lanjut.

Beli buku baru? Atau tidak?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s