Sate Ayam (?)

“Pak, sate ayamnya dua puluh. Nasinya dua. Teh tawar dua.”

Kami memilih duduk dekat jendela.

“Tapi disini satenya enak ga?”

“Kalo nggak ada rekomendasi enak, aku nggak ke sini.”

“Satenya banyak lemaknya ga?”

“Nah, mulai deh.”

“Yaa…kita kan mau makan sate daging ayam, bukan sate lemak ayam.”

“Tapi tau nggak, kalo lemak ayam dibutuhkan waktu bikin sate?”

“Maksudnya?”

“Kalo kita lihat sate masih mentah, sering ada lemaknya diantara daging yang ditusuk. Yang warnanya putih itu…”

“Iya.”

“Ternyata ada fungsinya.”

“Apaan?”

“Supaya daging sate plus tusukannya nggak kebakar. Nggak terlalu hangus juga.”

“Beneran?”

“Iya. Masih inget soal karsinogen? Yang bisa bikin kanker kalo terlalu banyak dikonsumsi?”

“Iya.”

“Itu maksudnya. Kalo dibakar, yang meleleh duluan lemaknya. Lemak ini yang meng-cover daging ayam plus tusukannya. Hasilnya, sate matang sempurna, tusukan masih utuh dan nggak ada yang hangus.”

“O gitu…”

“Iya, jadi jangan complain lagi kalo ada lemak di sate.”

“Tapi kan ada sate yang daging semua. Nggak ada lemaknya.”

“Tapi kita liat bumbunya, nggak? Sebelum dibakar, sate kan direndam dulu dalam bumbu. Kali aja ada dalam bumbunya.”

Pembicaraan kami terputus oleh pesanan yang datang. Dia mengangkat sate pesanan. Bengong.

“Ini sih bukan sate ayam. Tapi sate lalat. Kecil banget.”

“…..”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s