Gado-gado

“Mau gado-gado?”

“Mau banget. Tapi beli dimana? Hujan deras gini.”

“Bikin.”

“Bikin. Emang bahannya ada?”

“Ada. Yang nggak ada lontong.”

“Waa..nggak apa-apa. Gado-gadonya buat cemilan aja, bukan buat makan besar.”

“Wuih…cemilannya gado-gado ya…”

Aku nyengir. Dia geleng-gelang kepala. Lalu melesat ke dapur. Kalo sudah punya mau, nggak boleh diganggu. Lumayan, bisa nonton televisi sambil nunggu gado-gado matang.

“Pedes nggak?”

“Enggak. Awas kalo keliru lagi.”

Suara tawanya terdengar dari dapur. Kadang dia suka usil kalau nggak diancam.

“Masih lama nggak?”

“Enggak. Bentaran juga kesitu.”

Sip. Sudah mulai krucuk-krucuk perutku. Dan benar juga, dia muncul dengan dua piring gado-gado.

“Nih…”

“Bener ya…nggak pedes…”

“Enggak. Dua-duanya nggak pedes. Cabenya abis ternyata…”

Tapi…kenapa tampilan gado-gadonya aneh yah?

“Kenapa?”

“Kayaknya ada yang aneh.”

“Yaa…kan nggak pake lontong. Jadi keliatannya sedikit.”

“Bukan itu.”

“Terus apa?”

Aku masih mengaduk gado-gado milikku.

“Ini pake bumbu apa?”

“Ooo…itu. Ternyata persediaan kacang tanah kita juga habis.”

“Terus?”

“Untung aku nemu bumbu pecel di lemari. Pake itu aja…”

“…..”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s