Memuliakan Anak

Entah kenapa tiba-tiba jari tangan ini berhenti memencet tombol-tombol remote televisi. Berhenti pada sebuah channel yang menyiarkan tausiyah agama Islam. Seorang ustadz yang relatif masih muda, mengangkat tema tentang anak.

Ya. Anak.

Beliau mengaku sudah memiliki empat orang anak. Tiga laki-laki dan satu perempuan. Dan beliau bercerita tentang hari-harinya yang berusaha memuliakan anak. Dalam hal ini anak-anaknya sendiri.

Memuliakan anak?

Jujur saya sempat berkerut kening. Apa maksud dari ‘memuliakan’ disini? Bukan sulap, bukan sihir. Pak ustadz lalu menjelaskan maksudnya.

Bahwa selama ini, anak sering menjadi pihak yang selalu di tuntut oleh lingkungannya. Harus jadi anak baik, berbakti, sopan, rajin belajar, berprestasi dan lain-lain. Tapi pernahkah kita sebagai orang yang lebih tua, entah orang tua, paman, bibi, kakek, nenek, tetangga, guru dan lain sebagainya, sudah menjadi pihak yang ‘baik’? Baik dalam arti memberi contoh, mendidik dan memperlakukan anak dengan semestinya?

Jujur, saya tercenung mendengarnya. Tidak ada anak kecil dalam rumah saya. Jadi hal-hal seperti ini sering luput dari perhatian.

Adalah penting membentuk anak menjadi pribadi yang baik. Tapi akan lebih baik lagi jika kita sebagai orang tua tak hanya bisa menuntut, tapi juga memberi contoh. Pak ustadz lalu bercerita tentang seorang ibu yang menyuruh anaknya belajar dengan berteriak bahkan marah. Ingin membentuk anak menjadi mulia dengan cara tidak mulia? Muliakan dulu anakmu!

Saya terbengong. Jamak saya temui hal seperti ini. Kekerasan fisik, verbal, juga mental. Miris, tapi nyata.

Pak ustadz kemudian mengingatkan adalah benar kita sebagai orang tua harus dihormati oleh anak. Tapi sebagai orang tua kita juga harus ingat, bahwa anak adalah titipan Allah SWT. Bersyukurlah orang–orang yang dititipi anak oleh Nya. Kalau banyak, berarti kita dipercaya Allah. Kalau sedikit, berarti kita disayang Allah. Bahkan jika kita tak dititipi pun, masih banyak anak yatim yang menunggu kita. Anak-anak ini adalah ladang amal orang tuanya.

Saya termangu. Ada juga orang tua yang kesulitan melihat dari sudut pandang ini. Ladang amal.

Pak ustadz juga mengingatkan bahwa anak adalah tiket first class kita di akherat. Tak ada yang bisa menandingi kehebatan doa yang dikirimkan anak buat orang tuanya. Walaupun harus dibandingkan dengan kumpulan doa dari orang seluruh dunia. Hanya anak-anakmu yang bisa menyelamatkanmu. Muliakanlah mereka, maka kau akan dimuliakan dunia akherat.

Entah kenapa program ini hanya berlangsung 30 menit. Acara berganti. Tapi saya masih tenggelam dalam konsep memuliakan anak.

Muliakanlah anakmu, maka Allah SWT akan memuliakanmu dunia akherat.

Noted!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s