Sayur Bayam

Aku masih memetik daun bayam dari batangnya. Dia bingung dengan jagung manis di tangan.

“Jagungnya dipotong aja, ya. Nggak dipipil.”

“Terserah, sih. E tapi, kenapa emang?”

“Males mipilnya.”

Dia nyengir. Aku mencibir. Kumat, deh.

“Kalo bayam gini, deh. Kayaknya banyak banget gitu. Begitu dimasak langsung kempes.”

“Iya, ya. Aku kadang masih suka salah kira-kira. Perasaan udah banyak banget petiknya. Begitu disayur, jadinya dikit banget.”

“Lumayan ribet juga bikinnya. Nggak boleh lama dimasak. Cuma 5 menit. Kalo nggak, segala vitamin dan mineral langsung lenyap.”

“Dan nggak boleh dipanasin lagi buat makan berikutnya, kalo yang sebelumnya nggak habis.”

“Ribet, emang. Tapi ngangenin.”

Kami tertawa. Bayam. Salah satu persamaan kami. Memori masa kecil. Entah disayur bening, ataupun dimasak pecel.

“Manis, sih. Tapi sehat.”

Kami selesai dengan bagian masing-masing. Proses memasak, jatuh ke tangannya. Aku menyiapkan meja makan.

Tak lama, dia membawa mangkuk berisi sayur bening bayam ke meja. Aku terbengong-bengong dengan wortel yang tumben-tumbennya dibentuk seperti bunga.

“Tadi yang bilang males mipil jangung, siapa? Kok wortelnya berbunga-bunga gini?”

“Lagi pengin aja…”

Dia menyahut dengan gaya ‘melambai’.

“…..”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s