Kurma

Dia memasukkan beberapa butir kurma ke dalam kotak bekal, lalu memasukkan ke ransel kecil bersama botol air minum.

“Nggak kurang kurmanya?”

“Enggak. Cukup. Lumayan buat balikin tenaga.”

Dia memang lebih percaya kurma, dibanding minuman penambah tenaga ataupun isotonik.

“Kurma itu mengandung fruktosa. Aman. Juga cepat mengembalikan tenaga.”

Itu katanya suatu hari. Betul juga, sih. Buktinya, disunnahkan makan tiga biji kurma saat kita berbuka puasa, kan? Lebih cepat mengembalikan kadar gula dalam darah.

Tiba-tiba dia berhenti mengikat tali sepatu.

“Persediaannya habis, yah?”

“Apaan?”

“Kurmanya?”

“Enggak. Masih ada kok di kulkas. Satu plastik.”

“Tapi kok perasaan udah abis, yaa…”

Dia melangkah menuju kulkas.

“Udah hampir habis gini, lho…”

Dia mengangkat plastik berisi tak lebih dari sepuluh butir kurma.

“Masih banyak, nih…”

Aku mengangkat satu kantung plastik penuh kurma.

“Itu yang kurma Madinah. Maksudku yang Ajwa…”

“Ngobrol, dong…”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s