Menyerah?

Pernah memperhatikan anak berusia di bawah tiga tahun? Apa yang menarik dari mereka? Lucu dan menggemaskan, itu sudah pasti. Tapi apakah ada yang menyadari kelebihan mereka dibandingkan kita yang sudah lahir jauh lebih dulu?

Mereka tidak kenal ‘menyerah’.

Ya. Benar. Mereka sama sekali tak kenal dengan konsep menyerah. Mulai dari lahir, mengenali suara, mampu melihat, belajar tengkurap, merangkak, merambat, berdiri, berjalan sampai dengan mampu berlari. Tak kenal menyerah.

Apa jadinya, jika dalam rangkaian proses tadi mereka menyerah? Jangankan berlari, mungkin mereka tidak sanggup berdiri dengan benar, jika menyerah saat terjatuh beberapa kali. Dan konsep ini berlaku untuk semua anak di seluruh dunia, tanpa perbedaan.

Jadi, kesimpulannya, sifat mudah menyerah bukanlah sesuatu yang diturunkan. Bukan bawaan genetik. Murni bentukan dari lingkungan. Nurture, not nature. Lingkunganlah yang membentuk seseorang menjadi pribadi yang tangguh atau sebaliknya.

Ada masa dimana seorang anak ‘belajar hidup’ dengan cara trial and error. Dan itu normal. Bahkan sangat normal. Hanya terkadang, tak selalu lingkungan disekelilingnya mendukung proses ini.

Seorang anak mencoba belajar minum dari gelas, setelah sukses lepas dari dot dan mugmug. Bisa dipastikan dia tidak akan sukses sempurna dalam sekali coba. Entah air yang tumpah membasahi baju dan lantai, atau gelas yang jatuh, dan lain sebagainya. Bagaimana lingkungan terdekatnya merespon prosesnya dalam belajar minum menggunakan gelas? Mendukungnya untuk terus mencoba, sampai berhasil? Atau menyalahkannya karena telah membuat basah baju dan lantai? Atau menjatuhkan semangat dengan melabelinya dengan cap ‘bodoh’ karena tidak berhasil? Atau ada kemungkinan lain?

Kadang lingkungan tak menyadari telah membentuk seseorang menjadi pribadi yang tidak positif. Karena lingkungan di sekeliling kita juga sangat heterogen. Mereka yang membentuk lingkungan ini juga dibentuk oleh lingkungan mereka yang beraneka ragam.

Lalu, siapa yang harus kita salahkan dalam ‘lingkaran setan’ ini?

Jawabnya, tidak ada.

Kita tidak bisa mengendalikan lingkungan kita. Tetangga, sekolah, pekerjaan, bahkan dengan konteks yang besar seperti negara. Yang bisa kita lakukan adalah membentuk pribadi positif seseorang sejak kecil. Sejak belum mengenal kosakata ‘menyerah’. Sejak lingkungan yang dikenal hanya keluarga. Perlahan, sedikit demi sedikit. Sehingga, saat mulai memasuki lingkungan yang lebih besar, sedikit banyak pribadi positifnya sudah terbentuk, dan siap untuk ‘diuji’.

Sekarang, mari kita lihat diri kita sendiri. Apakah kita adalah pribadi yang tangguh, atau justru mudah menyerah? Ada baiknya kalau kita kembali belajar pada anak-anak usia dibawah tiga tahun, walau dengan konteks masalah yang dihadapi jauh lebih besar. Masih berani menyerah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s