Lemper

“Lemper yang baik dan benar menurut pakem itu yang bagaimana?”

“Gini…”

Kami duduk manis.

“Itu beras ketan dimasak setengah matang dengan santan. Jangan lupa dikasih garam dikit biar lebih gurih.”

Kami mengangkat alis.

“Iya. Pake santan bukan cuma air. Kalo udah setengah matang, lalu diisi. Biasanya daging ayam atau abon, terserah. Terus dibentuk. Lalu dikukus sampai matang.”

Kami manggut-manggut.

Kalo udah matang, lempernya dibakar. Jadi aroma daun pisangnya nempel di lemper. Gitu.”

Kami melongo.

“Kalo prosesnya seperti itu, dijamin lemper awet lebih lama, walaupun pake santan.”

“O ya?”

“Iya. Paling enggak masih bisa ‘nginep’ semalam deh. Kalo lemper yang sering beredar sekarang kan suka nggak awet. Bikin pagi, sorenya udah basi.”

Kami masih mendengarkan.

“Apalagi sekarang lemper nggak lagi dibungkus daun pisang, tapi pake bungkus plastik warna hijau. Ini bener-bener pelecehan terhadap lemper!”

Kami saling lirik. Gini deh kalo ngomong sama pakar lemper…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s