Cheeseburger

Dia menyodorkan piring padaku. Diatasnya, seporsi cheeseburger original. Aku melotot.

“Apa-apaan ini?”

“Tau nggak? Tadi aku lewat gerai fastfood. Nggak sengaja liat anak makan cheeseburger. Nggak tau kenapa kok jadi inget kamu. Ya udah, aku beli satu.”

“Apa hubungannya aku sama cheeseburger?”

“Kapan terakhir makan cheeseburger?”

Aku diam. Agak lama.

“Lupa, kan?”

Aku mengangguk.

“Kelamaan diet, sih.”

Aku mengerutkan dahi.

“Tau nggak? Aku lama-lama curiga. Kamu ini diet atau anorexia?”

Kali ini aku melotot lagi.

“Serius. Rada kebangetan, deh. Kalo dipikir, makanan yang dimakan sehari-hari, gizinya kurang. Konsultasi dong sama ahli gizi. Jangan diet sembarangan.”

“Terus, apa hubungannya sama cheeseburger?”

Dia pergi ke dapur dan kembali dengan sebilah pisau. Dipotongnya cheeseburger jadi dua.

“Makan.”

Aku melihat kearahnya.

“Iya. Makan. Kamu pasti nolak.”

Aku mengangguk.

“Ini cheeseburger, Sayang. Memang bukan makanan sehat. Tapi nggak haram. Nggak tiap hari juga kamu makan ini. Nggak akan seketika merubah angka timbangan. At least, makan setengahnya aja dulu. Guilty pleasure, yes. Tempting, off course. Tapi seenggaknya ini bisa buktiin kalo kamu nggak sakit jiwa. Makan dan dinikmati. Habiskan kalo perlu.”

Aku bengong. Lalu menatap cheeseburger. Kuambil setengah. Kugigit. Kejunya meleleh diantara daging sapi cacah. Enak sekali. Entah kapan terakhir aku menikmatinya. Rasanya sudah terlalu lama.

Kulihat dia tersenyum ketika aku mengambil potongan yang tersisa dimeja.

“Kalo masih kurang, bilang aja. Ntar aku belikan lagi.”

Sekarang ganti aku yang tersenyum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s