Bakpia

Dia meletakkan dua kotak berwarna merah di meja.

“Bakpia. Oleh-oleh temen pulang dari Jogja.”

Kotak pertama dibuka. Tampilan bakpia pada umumnya. Nggak ada bedanya.

“Coba, deh. Yang ini lain.”

Aku ambil satu. Menggigitnya. Mengunyahnya. Dan…

“Iya, kan?”

Aku mengangguk.

“Apanya yang bikin beda, yah? Secara tampilannya sama gini?”

“Katanya sih kacang hijaunya dipilih yang berkualitas bagus. Dan kulit kacang hijaunya dibuang. Makanya jadi lembut.”

Aku manggut-manggut. Kami kembali tekun dengan bakpia masing-masing.

“Ini kenapa oleh-olehnya banyak? Tumben ampe ngasih dua kotak gini?”

“Yang itu beda.”

Dia membuka kotak yang satu lagi.

“Yang ini oplosan macem-macem rasa.”

“Macem-macem?”

“Iya. Ada keju, cokelat, susu, strawberry, banyak deh.”

Aku mengangkat alis. Inovasi, ceritanya.

“Coba, deh. Aku tadi nyoba, pas dapet yang cokelat. Enak.”

Aku mengambil satu. Menggigitnya. Mengunyahnya. Rasa apa ini, yah? Dan…

“Aaaaa!!!”

“Apa?”

“Rasa duren!”

“…..”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s