Popcorn

Keping dvd sudah masuk player.

“Coba ada popcorn, pasti berasa di bioskop.”

“Bikin popcorn tuh ribet.”

“Ribetnya?”

“Musti pas takaran minyak sama margarinnya. Biar gurih. Salah sedikit, boro-boro gurih. Yang ada jadi eneg.”

“Gitu?”

Yes. Minyak dipanaskan sama margarin. Kalo mau asin, margarin harus banyak. Setelah benar-benar panas, jagung baru dimasukkan. Nah, jagung ini harus terendam semua dalam minyak plus margarin tadi. Nggak boleh kurang, juga lebih.”

“Kenapa?”

“Kalo kurang bisa hangus. Kalau lebih, popcornnya nanti jadi berminyak.”

“Ternyata emang ribet yah…”

“Iya. Makanya aku males bikin.”

“Bikin? Emang kita punya mesin popcorn?”

“Lah, kan bisa pake panci sama tutupnya.”

“Bisa?”

“Bisa.”

“Kenapa nggak bikin? Ayo kita bikin popcorn dulu!”

Dia mematikan dvd player via remote. Ganti aku yang manyun.

 

Cupcake

Baru pertama kali datang ke resepsi pernikahan temanya cupcake. Keren. Berbagai macam cupcake disediakan untuk pencuci mulut, selain es puter dan es buah. Tapi tetap cupcake pencuri perhatian.

Kue pengantin juga dari tumpukan cupcake aneka rasa. Kami sering lihat di pesta ulang tahun anak-anak. Tapi yang kali ini beda. Tumpukan cupcake itu bisa begitu anggun.

Dan, bisik-bisik para undangan yang datang, souvenir yang akan diberikan ketika pulang adalah handuk kecil yang dibentuk serupa cupcake. Useful.

“Keren, ya..”

“Apanya?”

“Semuanya.”

“Iya.”

“Coba dulu kita kepikir pake tema cupcake. Kue pengantinnya pake cupcake kan cantik banget.”

“Lah, bukannya kita dulu juga pake yang mirip?”

“Dimana miripnya? Kita kan pake tumpeng.”

“Paling nggak modelnya mirip lah…”

 

Pie

“Kalau dipikir, pie itu ambigu kayak kue sus.”

“Maksudnya?”

“Bisa masuk ‘manis’ juga ‘asin’. Tergantung isinya.”

“Tapi di Indonesia, pie cenderung masuk manis.”

“O ya?”

Yes. Cek aja. Baik pie yang tertutup atau yang ‘isinya’ ada dipermukaan pie. Kebanyakan semua manis. Bahkan pie buah sekalipun.”

“Ngomong-ngomong soal pie, itu resto fast food kenapa nggak jual apple pie lagi, ya? Padahal enak banget. Murah pula, cuma lima ribu.”

“Peminatnya nggak banyak, kayaknya. Milk shakenya juga nggak ada lagi di daftar menu. Padahal, vanilla milk shakenya, beuh… heaven on earth.”

“Lucunya, malah bikin kopi yang rasanya nggak jelas. Kalah sama fast food sebelah.”

“Eh, ya… Ini tadi ngomongin pie, kenapa jadi ngelantur kemana-mana?”

 

Eclair

“Perasaan, éclair kok mirip kue sus, ya?’

“Iya. Kan adonan sama. Cuma beda dibentuk. Kalo kue sus bundar, éclair panjang. Isinya cream fla. Bisa vanilla, cokelat, pernah juga coba cream cheese. Yummy.”

“Lah, kalo gitu bedanya dimana? Masa’ cuma beda bentuk aja bisa beda nama?”

“Bedanya? Éclair diguyur cokelat.”

“Diguyur?”

“Iya. Cokelat dipanaskan. Lalu diguyurkan ke permukaan bagian atas éclair. Biarkan sampai dingin.”

“WOW!”

“Bayangkan. Udah gitu isinya fla choco…”

Kami hanya saling berpandangan. Ngiler berjamaah.

 

Old friend

Apa yang kau rasakan jika bertemu teman yang lama terpisah? Biasanya, kebanyakan akan menjawab senang, kaget, surprise, heboh. Sama seperti saya ketika bertemu seorang teman lama, beberapa hari lalu.

Sebenarnya dia, sebut saja ‘A’, adalah teman dari teman saya. Kami dikenalkan ketika tak sengaja ketika bertemu di sebuah mall belasan tahun lalu. Sejak itu kami berteman baik, sampai akhirnya saya kehilangan jejak saat dia kehilangan ponsel.

Beberapa hari lalu, saya bertemu dengannya tanpa sengaja, lagi-lagi di sebuah mall. Takjub. Kenapa? Secara tampilan sudah berubah. Lebih keren, dengan model hijab terkini. Kece, deh.

Karena sudah jam makan siang, kami memutuskan makan bersama di food court. Ngobrol ngalor ngidul, sampai terkuak bahwa kami sama-sama belum punya buku nikah. Bedanya, saya memang belum menikah. Sedang dia, sudah menikah tiga kali, dengan tiga orang laki-laki yang berbeda, dan ketiganya menikah siri, alias tak tercatat oleh Negara. Jadi, benar adanya jika dia tak punya buku nikah.

Tapi bukan itu masalah yang muncul kemudian. Dia heran dengan status saya. Saya pun heran dengan keputusan hidupnya. Kenapa harus nikah siri? Sampai tiga kali pula.

“Aku orangnya bosenan,” begitu jawabnya.

Entah kenapa, tiba-tiba mata saya menatap sneakers yang melekat di kaki. Sudah mulai memudar warnanya. Tapi saya masih cinta mati padanya.

“Jadi karena itu memilih nikah siri?”

“Iya. Jadi kalau sudah bosen, cerainya gampang. Kalau nikah KUA, kan ribet banget.”

Saya manggut-manggut, walau yang saya dengar masih terasa absurd. Well, alasan ini memang tidak bisa digeneralisasikan pada semua pasangan yang memutuskan menikah siri, kan? Tapi alasan yang satu ini sukses membuat saya tercenung. Lalu, apa definisi sebuah pernikahan buatnya? Apakah hanya sebuah penyatuan raga? Tanpa cinta dan komitmen atas dasar ibadah? Atau memang saya yang terlalu agung mendefinisikan sebuah pernikahan?

Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Namun, karena saya sudah terikat janji temu dengan teman yang lain, kami terpaksa harus berpisah setelah bertukar nomor ponsel.

Tapi, perpisahan kami memunculkan bahan perenungan buat saya, ketika satu pertanyaannya belum sempat saya jawab.

“Sesempurna apa papamu, sampai kamu belum juga menikah?”