Abon

Kami berdua duduk di teras sebuah rumah lama. Dengan jendela lebar dan besar, khas jaman Belanda. Letaknya ada di ujung sebuah jalan, sekitar 20 kilometer dari rumah kami.

Kenapa kami ada disini? Beli abon sapi. Yes. Namanya sudah langganan dan cocok, mau jauh seperti apa, pasti didatangi. Sebenarnya tempat ini adalah rumah tinggal biasa, tapi sang kepala keluarga punya bisnis kecil. Abon tadi. Tak hanya abon sapi, ada juga abon ayam dan ikan. Belakangan, dia juga merambah ke aneka kerupuk dan kudapan kecil.

Abonnya selalu baru. Setiap hari mereka produksi tak terlalu banyak. Maklum bisnis rumah kecil-kecilan. Selain minim modal, juga menjaga kualitas abon. Walaupun, jika bungkus tidak dibuka abon bisa bertahan berbulan-bulan, tapi dia tak ingin menumpuk stok terlalu banyak. Ada benarnya juga kalau dipikir.

Sudah lama kami berlangganan. Sejak masih sama-sama kuliah. Hanya gara-gara rumah salah satu teman tak jauh dari sini. Benar juga, promosi dari mulut-ke mulut memang paling dahsyat dan murah.

Tiba-tiba seorang anak perempuan kecil berseragam SD, masuk ke halaman rumah dan memberi salam pada kami.

Adek, kelas berapa sekarang?”

Kelas enam, Tante.”

Wah, mau ujian dong.”

Iya. Minta doanya yah, Tante, Om..”

Dia masuk ke dalam rumah. Hati kami mencelos. Kami menenalnya sejak dia masih dalam kandungan. Berarti 12 tahun lalu. Dan ibunya wafat saat melahirkannya. Bisa dibilang, kami adalah saksi tumbuh kembangnya. Walau kami kadang suka berandai, bagaimana perasaannya memiliki hari ulang tahun yang sama dengan hari kematian ibunya?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s