Lolo, Si Kancil

Semua mata menatap ke arah tikungan. Belum ada satupun yang muncul disana. Harap-harap cemas. Siapa kiranya yang akan muncul pertama?

“Lolo!”

“Dompu!”

“Mana mungkin? Pasti Bona!”

Masing-masing punya jagoannya sendiri-sendiri. Ya. Ini babak final lomba lari jarak jauh lintas alam. Dan finalisnya adalah Lolo si Kancil, Dompu si domba dan Bona si rusa.

Tak terkecuali si Choky. Kelinci cokelat muda ini menunggu sahabatnya, Lolo, muncul di tikungan jalan dan menjadi yang pertama menyentuh garis finish. Tapi belum ada tanda-tanda. Semua masih menunggu.

Tiba-tiba kerumunan itu meriuh. Benar saja, ada yang muncul di tikungan depan sana. Tapi siapa? Tak pelak, Choky memicingkan mata. Tak lama, matanya membelalak. Itu Lolo! Choky berteriak memberi semangat sambil meloncat-loncat.

Dan, pada akhirnya, Lolo berhasil menyentuh garis finish serta menjadi juara pertama.Para pendukung mengelu-elukannya, tak terkecuali Choky. Wajah Lolo terlihat gembira walau pasti sangat lelah.

“Hebat kamu, Lo!”

Choky menyodorkan setumpuk rumput segar pada Lolo, saat semua keriaan berakhir.

“Ah, biasa aja kok…”

“Bener. Kalau nggak hebat, nggak mungkin kamu bisa mengalahkan Dompu. Apalagi Bona yang larinya terkenal cepat.”

Lolo senyum-senyum. Choky curiga. Biasanya, kalau sahabatnya itu mengumbar senyum seperti ini, pasti ada sesuatu yang disembunyikan.

“Hayo! Kamu curang, ya?”

“Ah! Enggak kok!”

“Terus kenapa senyum-senyum?”

“Begini…”

Lolo membetulkan letak duduknya.

“Inikan lomba lari jarak jauh lintas alam. Yang dibutuhkan adalah ketahanan fisik pelari, bukan kecepatannya.”

Choky mendengarkan.

“Memang sih, Bona terkenal cepat larinya. Aku juga mengakui itu. Tapi, tanpa menafikan kemampuannya, Bona lebih cocok jadi pelari jarak dekat. Istilahnya, jadi sprinter deh.”

Choky masih mendengarkan.

“Kalau Dompu, entahlah. Sepertinya dia agak kurang fit tadi. Mukanya agak pucat. Mungkin itu yang membuatnya jadi agak tertinggal jauh.”

“Lalu?”

“Terlepas dari itu semua, lari jarak jauh itu butuh strategi. Salah satunya, kita harus bisa mengatur tenaga, menjaga ritme lari dan mencuri kesempatan.”

Seketika telinga Choky berdiri tegak.

“Eee…mencuri disini artinya baik lho! Salah satu rintangan yang kami lewati tadi adalah menyeberangi sungai kecil. Nah, waktu di sungai itu aku mencuri kesempatan untuk berhenti minum dan istirahat sebentar. Lumayan, bisa menambah tenaga dan mengatur nafas.”

Choky mengangguk-angguk.

“Jadi sebenarnya, kemenanganku lebih banyak karena faktor pendukung. Bukan semata-mata karena aku jago lari. Begitu.”

Lolo kembali menekuni rumputnya.

“Wah, memang cerdas kamu, Lo!”

“Pastinya. Lolo!”

Tawa mereka berderai.

 

#7HariMendongeng cc: @teguhpuja @alizarinnn

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s