Naina, Si Angsa

Siapa warga hutan ini yang tak mengenal Naina? Angsa putih yang beranjak remaja. Tak hanya cantik, tapi sangat pandai mendongeng. Dimanapun dia berada, banyak yang meminta untuk mendongeng. Tua, muda, jantan, betina, semua telah tersihir oleh cerita-ceritanya. Sangat menarik.

Hingga suatu hari, pak beruang mengumumkan akan diadakannya lomba mendongeng antar hutan belantara. Seluruh penghuni tak ayal langsung melayangkan pandangan pada Naina.

“Kenapa semua memandangku?”

“Naina…semua juga tahu, tak ada yang lebih layak mewakili hutan kita di lomba mendongeng selain kamu.”

“Aku? Ooo…tidak…tidak bisa…”

Naina menggelengkan kepalanya kuat-kuat sambil menggerak-gerakkan sayapnya.

“Kenapa?”

“Aku belum pernah ikut lomba. Selama ini aku mendongeng hanya untuk warga hutan kita.”

“Maka inilah kesempatan pertamamu. Ayolah…”

Mulai hari itu, satu per satu warga hutan bergantian merayu Naina untuk bersedia ikut lomba. Awalnya ia tetap bersikukuh menolak. Namun, lama-lama luluh juga.

“Baiklah, aku akan ikut lomba. Tapi ada syaratnya..”

“Apa syaratnya?”

“Dalam dua sampai tiga hari ini aku akan membuat dongeng baru. Setelah selesai, aku akan menceritakannya didepan seluruh warga hutan kita. Aku membutuhkan penilaian kalian. Bila bagus, aku akan ikut lomba. Tapi jika sebaliknya, lebih baik tunjuk warga yang lain saja. Bagaimana?”

“Sepakat!”

*

Tiga hari kemudian, seluruh warga hutan berkumpul di tepi sungai, di pelataran depan rumah mendiang pak burung hantu. Mereka menanti Naina menceritakan dongeng baru buatannya.

Tak lama, Naina muncul dari rumah pak burung hantu yang sekarang menjadi perpustakaan. Kakek singa mempersilahkan Naina naik ke atas tumpukan batu. Lalu, mulailah ia mendongeng.

Naina bercerita tentang sebuah hutan yang dihuni berbagai jenis hewan yang hidup rukun.Ada singa, beruang, kelinci, angsa, kancil, domba, kambing, rusa, beo, ular, dan masih banyak lagi. Seperti layaknya mahluk yang hidup berdampingan, tak lepas dari perselisihan, pertengkaran, bersitegang dan sebagainya. Naina menceritakan bagaimana semua masalah itu diselesaikan dengan baik dan tuntas. Juga tentang kegembiraan, kesedihan, kebaikan, kejahatan dan banyak lagi.

Semua geming. Diam. Tersihir. Cerita Naina benar-benar dongeng yang indah. Bak sebuah kerajaan hutan dari antah berantah. Dan ketika Naina selesai mendongeng, seluruh hadirin bertepuk tangan riuh. Beberapa ibu mengusap air mata yang meleleh. Kakek singa menghampiri Naina.

“Ceritamu indah, Naina. Pasti sulit membuatnya.”

“Sama sekali tidak, Kek. Semua yang saya ceritakan tadi adalah kehidupan warga hutan kita.”

Para warga terdiam.

“Benarkah?”

“Benar, Kakek. Saya hanya mengamati keseharian warga hutan kita dan menuangkannya dalam dongeng. Kehidupan warga hutan kita bak dongeng negeri khayalan. Saya hanya menceritakannya kembali. Dengan cara saya, tentu saja..”

Kakek singa tersenyum.

“Dan, warga hutan semua. Apakah Naina bisa mewakili hutan kita dalam lomba mendongeng?”

Seketika tepi sungai riuh olek tepukan, teriakan dan hentakan kaki. Semua menyetujui Naina mewakili hutan mereka. Tak disangkal lagi.

“Nah, Naina…bersiaplah, Nak. Buat seluruh warga hutan lain tersihir oleh dongengmu.”

“Baik, Kakek Singa.”

 

2 thoughts on “Naina, Si Angsa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s