Kepala, Pundak, Lutut, Kaki

Kemarin lusa, saya sempatkan membaca sebuah posting di blog milik mbak Titie Surya. Entah kenapa, yang terlintas di kepala saya setelah selesai membaca adalah permainan yang jamak dimainkan ketika saya kecil.

Kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki. Daun telinga, mata, hidung dan pipi

Anyway, anak sekarang masih kenal permainan ini nggak ya?🙂

Sebenarnya apa hubungan permainan ini dengan postingan mbak Titie? Karena beliau menulis tentang pemimpin. Dan, yang melintas di kepala saya, pemimpin itu…ya…seperti permainan kepala, pundak, lutut, kaki. Btw, nama resmi permainan ini apa sih?

Buat saya pribadi, kepala belum tentu pemimpin, tapi pemimpin haruslah seorang kepala. Bukan hanya harus punya ‘otak’, tapi juga harus bisa menjadi contoh, pengayom dan tentu saja jadi pemimpin buat yang dipimpin. Ini amanah. Tanggungjawabnya tak hanya pada yang memberi amanah, tapi juga pada Tuhan YME. Berat? Pasti. Sangat. Itu kenapa saya selalu salut pada pribadi-pribadi yang bisa menjadi pemimpin yang sebenar-benarnya pemimpin.

Pemimpin juga harus bisa menjadi pundak. Buat saya bukan sekedar tempat bersandar dan berkeluh kesah, tapi juga bisa jadi partner yang baik. Tak sedikit individu dengan jabatan yang lebih tinggi, enggan ‘menurunkan’ egonya hingga bisa sejajar dengan orang yang dipimpinnya. Termasuk untuk berbagi ilmu. Tak hanya satu, tapi dua arah. Hei, menjadi pemimpin bukan berarti menjadi yang paling berilmu, kan?

Pemimpin juga harus bisa jadi lutut. Sendi penopang tubuh. Kinerja keseluruhan tim bertumpu di lutut. Harus kuat, lahir dan batin. Kita tahu, tak selamanya semua berjalan baik-baik saja. Kadang muncul riak. Kecil, besar, dari luar, juga dari dalam. Dan para bawahan adalah cerminan dari pemimpinnya. Mereka akan kuat bila pemimpinnya kuat.

Pemimpin juga harus bisa jadi kaki. Pelaksana. Pun garda depan. Itulah kenapa ada baiknya seorang pemimpin adalah individu yang merintis jalannya dari bawah, bukan tiba-tiba ada di atas. Sebagai kaki, pemimpin juga harus menjadikan yang dipimpinnya menjadi individu yang lebih baik. Menjadi pijakan bagi bawahannya untuk melompat lebih tinggi.

Pemimpin yang baik seharusnya bisa menjadi daun telinga. Listen, not just hear. Menyimak, bukan hanya mendengar. Menampung aspirasi. Menerima kritik dan saran. Juga fokus. Untuk kinerja yang lebih baik, tentu saja.

Become an eye. Melihat, mengamati, observasi, perhatian, membaca, belajar. Tentang banyak hal.

Hidung. Tahukah anda, indera pertama yang berfungsi pada saat manusia lahir adalah hidung? Telinga, peraba dan pengecap berfungsi beberapa saat setelah lahir. Mata justru beberapa minggu setelahnya. Tapi, apa jadinya bila bayi baru lahir bermasalah dengan hidungnya? Pemimpin harus bisa mencium. [Eh? Mencium? :)]. Ya. Mencium situasi yang kurang atau tidak kondusif dalam timnya. Juga yang berlangsung diluar. Untuk itu butuh kepekaan. Itulah mengapa pemimpin harus memiliki sense of belongingness and be part of this team, not just become a leader. Menjadi bagian dan merasa memiliki sehingga muncul kepekaan jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Pipi. Perwujudan emosi. Senang, susah, gembira, marah, gundah, tenang, bisa terlihat di pipi. Orang yang biasa tersenyum akan muncul garis senyum dipipinya. Orang yang hobi mengkonsumsi makanan ‘tak sehat’, kulit pipinya akan bermasalah (berminyak, berjerawat, komedo, dll). Pipi juga akan menjadi kusam, kasar, keriput bila tak dirawat. The point is jadi pemimpin berarti harus bisa memimpin dirinya sendiri. Refleksi. Bagaimana bisa mengajak bawahan untuk disiplin jika ia sendiri tidak? Menuntut karyawan tepat waktu sedang ia datang seenak hati.

Lucunya, permainan ini tidak menyertakan ‘mulut’. Bisa jadi mulut lebih sering jadi pedang bermata dua. Efektif untuk menjadi manfaat, juga bumerang pembunuh. Dan kesalahan-kesalahan terbesar juga sering keluar dari mulut, bukan anggota tubuh yang lain.

Sulit, memang. Tapi bukan berarti mustahil. Butuh proses. Jadi tak ada pemimpin yang lahir dari proses instant. Bahkan mie instant sekalipun butuh waktu untuk bisa dikonsumsi, kan? Itulah kenapa, saya pribadi, lebih sering berucap ‘innalillah’ daripada ‘alhamdulillah’ saat mengetahui seseorang diberi amanah menjadi pemimpin. Karena dunia akherat menunggu sepak terjangnya.

Berlebihan? Terserah penilaian anda🙂

2 thoughts on “Kepala, Pundak, Lutut, Kaki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s