Old friend

Apa yang kau rasakan jika bertemu teman yang lama terpisah? Biasanya, kebanyakan akan menjawab senang, kaget, surprise, heboh. Sama seperti saya ketika bertemu seorang teman lama, beberapa hari lalu.

Sebenarnya dia, sebut saja ‘A’, adalah teman dari teman saya. Kami dikenalkan ketika tak sengaja ketika bertemu di sebuah mall belasan tahun lalu. Sejak itu kami berteman baik, sampai akhirnya saya kehilangan jejak saat dia kehilangan ponsel.

Beberapa hari lalu, saya bertemu dengannya tanpa sengaja, lagi-lagi di sebuah mall. Takjub. Kenapa? Secara tampilan sudah berubah. Lebih keren, dengan model hijab terkini. Kece, deh.

Karena sudah jam makan siang, kami memutuskan makan bersama di food court. Ngobrol ngalor ngidul, sampai terkuak bahwa kami sama-sama belum punya buku nikah. Bedanya, saya memang belum menikah. Sedang dia, sudah menikah tiga kali, dengan tiga orang laki-laki yang berbeda, dan ketiganya menikah siri, alias tak tercatat oleh Negara. Jadi, benar adanya jika dia tak punya buku nikah.

Tapi bukan itu masalah yang muncul kemudian. Dia heran dengan status saya. Saya pun heran dengan keputusan hidupnya. Kenapa harus nikah siri? Sampai tiga kali pula.

“Aku orangnya bosenan,” begitu jawabnya.

Entah kenapa, tiba-tiba mata saya menatap sneakers yang melekat di kaki. Sudah mulai memudar warnanya. Tapi saya masih cinta mati padanya.

“Jadi karena itu memilih nikah siri?”

“Iya. Jadi kalau sudah bosen, cerainya gampang. Kalau nikah KUA, kan ribet banget.”

Saya manggut-manggut, walau yang saya dengar masih terasa absurd. Well, alasan ini memang tidak bisa digeneralisasikan pada semua pasangan yang memutuskan menikah siri, kan? Tapi alasan yang satu ini sukses membuat saya tercenung. Lalu, apa definisi sebuah pernikahan buatnya? Apakah hanya sebuah penyatuan raga? Tanpa cinta dan komitmen atas dasar ibadah? Atau memang saya yang terlalu agung mendefinisikan sebuah pernikahan?

Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Namun, karena saya sudah terikat janji temu dengan teman yang lain, kami terpaksa harus berpisah setelah bertukar nomor ponsel.

Tapi, perpisahan kami memunculkan bahan perenungan buat saya, ketika satu pertanyaannya belum sempat saya jawab.

“Sesempurna apa papamu, sampai kamu belum juga menikah?”

 

2 thoughts on “Old friend

  1. Mbak, akhirnya ada tulisan selain makanan.. hihi. *setiap baca yg makan2an, sampe ngences radius 300 meter*
    So, sesempurna apa papamu, Mbak? *berpikir keras* *siap puk2in*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s