Labeling

Pernah dengar seseorang diberi label? ‘Anak nakal’, ‘Anak pintar’, ‘Orang bijak’, ‘Orang jahat’, ‘Perempuan murahan’, ‘Suami tukang selingkuh’, ‘Orang alim’, dll. Pasti pernah, kan?

Bisa jadi orang sudah terbiasa dengan labeling ini. Dari masih kecil, manusia sudah diberi label. Anak bungsu yang manja, misalnya. Mungkin terdengar cute dan unyu. Tapi, tahukah dampak jangka panjangnya? Berapapun umurnya kelak, bisa jadi dia akan selalu menjadi anak bungsu yang manja. Dengan segala konotasi positif dan negatifnya.

Ambil contoh lain. Anak pintar. Siapa yang tidak mau dapat label ini? Namun, yang terjadi selanjutnya, dia akan berusaha tetap ‘memiliki’ label tersebut. Dengan berbagai cara. Masih bagus jika dia tetap terus belajar tanpa henti. Tapi jika sudah mulai menghalalkan segala cara, seperti mencontek, plagiat, dll? Pun tak mau ambil resiko agar tak terlihat bodoh. Demi sebuah label ‘anak pintar’.

Mungkin saya salah pakai kacamata. Melihat dampak negatif dari sebuah labeling. Karena sejatinya, labeling bak dua sisi mata pisau. Labeling juga berdampak positif, kok. Dengan memberi label ‘anak pintar’, diharapkan si anak akan tetap dan teus meningkatkan prestasinya. Itu harapan orang banyak. Tapi bagaimana jika sebaliknya, seperti yang saya ceritakan diatas? Kemungkinannya 50:50.

Then, jika kemungkinan antara dampak positif dan negatifnya sama besar, kenapa tidak kita mulai saja kebiasaan baru? Dengan hanya memanggil nama mereka tanpa embel-embel label, misalnya. Toh, setiap orang tua memberikan nama yang indah bagi anak-anaknya, bukan? Karena dalam setiap nama pemberian orang tua, ada doa dan harapan didalamnya.

Iklan

Bioskop

Hari Kamis kemarin, saya nonton film Indonesia di bioskop. Bukan filmnya yang mau saya ceritakan, tapi justru bioskopnya. Kenapa? Saya mengalami rasanya bioskop dari jenis layar tancap sampai yang keren seperti sekarang.

Dulu, rumah saya tidak jauh dari suatu perkampungan. Sebulan sekali, mereka mengadakan acara nonton bareng layar tancap. Udah keren banget deh buat mereka jaman itu. Suatu kali, saya yang masih kecil ditemani seorang pembantu, iseng ikutan nonton. Ternyata gratis! Penduduk kampung saweran untuk mendatangkan layar tancap ini. Hiburan murah meriah. Dan film yang saya tonton ketika itu adalah Cinderella dan sepatu kaca dengan Ira Maya Sopha sebagai bintang utamanya. Maklum, sedang libur sekolah 🙂

Yang keren sebenarnya adalah para penjual makanan dan minuman yang ada di sekitar layar tancap. Ada bakso, sate, gorengan, kacang rebus, dll. Kesannya santai dibanding standar gedung bioskop saat itu.

Ngomong soal bioskop jaman dulu, nggak banget untuk ukuran sekarang. Lihat jadwal di koran (belum ada internet, kan..), datang ke gedung bioskop, antri beli karcis, beli minuman dan camilan, masuk studio, nonton film, selesai, pulang. Standar. Sebenarnya sama aja dengan yang sekarang. Tapi kualitas sangat standar. Segalanya. Bahkan, kalau beruntung, kita bisa dapat kursi yang ada kutunya. Sungguh mengaburkan konsentrasi 🙂

Waktu bergulir. Jaringan 21 masuk. Kualitas bioskop naik. Layarnya lebih oke. Kursinya lebih empuk. Ruangan lebih dingin. Counter makanan dan minuman lebih variatif produknya, dll. Sayangnya, hanya ada di kota besar.

Lalu muncul XXI, XXI premier dan Blitz megaplex. Surga bagi penonton bioskop. Konsumen dimanjakan dengan fasilitas yang jauh lebih oke. Belum lagi kualitas film sekarang yang sudah digital dan juga kualitas suaranya. Menyempurnakan segalanya. Service pun di tingkatkan. Sempat terfikir ketika pesanan hot dog dan ice cappuccino saya di antar ke dalam studio. Sepertinya serupa ketika saya nonton layar tancap dulu. Hanya beda tempat dan barang yang di antar. Berharap kedepannya, bioskop juga menyediakan makanan yang lebih ‘Indonesia’, seperti bakso, soto, rawon, yang bisa menghangatkan tubuh yang didinginkan AC studio 🙂

Ngomong soal bioskop nggak akan habis. Sebagai penonton yang cukup setia, cuma bisa menunggu dan berandai. Kira-kira, akan berkembang seperti apa lagi bioskop di Indonesia?

 

Sepakbola

Penasaran.

Kenapa teman-teman saya yang perempuan lebih suka lihat pemain-pemain sepakbola yang katanya ganteng dan cakep? Secara sepakbola lebih enak di lihat dari jarak jauh, sehingga pertandingan dan seluruh aspeknya bisa dilihat dan di nikmati.

Ada yang bisa jawab?

#15HariNgeblogFF2 : testimony

Awal tahun ini, saya ‘ditampar’ oleh tiga kalimat.
1. Katanya penulis, kok jarang nulis?
2. Katanya penulis, kok sampai lupa password blog sendiri?
3. Kalo sehari bisa makan minimal 3x, masa nulis sehari 1x nggak bisa?
DUENG! Sakit, sih. Tapi ketiga kalimat itu benar semua. Dan yang menyelamatkan muka saya dari rasa malu saat itu adalah proyek #15HariNgeblogFF bulan Januari. Kenapa? Saya berusaha membiasakan diri menulis minimal 1x sehari. Berat, tapi tidak mustahil. Dan saya berhasil. Setidaknya, dari proyek tersebut dimulai, sampai proyek #15HariNgeblogFF2 selesai, seharipun blog saya tidak pernah kosong! Senang 🙂
Dan proyek #15HariNgeblogFF2 muncul dengan tantangan yang berbeda. Tidak hanya judul, tapi setting lokasi cerita ditentukan. Kalau di proyek pertama saya membuat cerita bersambung tentang konspirasi pembunuhan berlatar belakang perselingkuhan, di proyek kedua semua cerita lepas tak ada yang saling berkait. Kenapa? Pengin beda aja 🙂
Dengan ditambahnya tantangan setting lokasi, justru menambah semangat. Berusaha mencari tahu apapun yang behubungan dengan setting lokasi yang ditentukan tiap harinya. Tambah ilmu, wawasan, juga bisa keliling Indonesia. Untuk saya yang terbiasa bekerja dengan data, setting tempat punya tantangan yang berbeda. Bagaimana memasukkan data tentang lokasi yang tersebar dan bisa didapatkan di internet, buku, bahkan pengalaman pribadi ke dalam cerita tanpa menjadikannya seperti tempelan. Nge-blend dengan halusnya dalam cerita tanpa terasa seperti copy paste dari situs lain. Dan ternyata itu sama sekali tidak gampang. Belum lagi kebiasaan saya yang berusaha membuat flash fiction tak lebih dari 500 karakter. Plus keinginan mengangkat isu-isu sosial seperti, perselingkuhan, child abuse, homoseksual, human trafficking, pelacuran, sejarah, dll.
Ya. Saya memang orang gila 🙂
Dengan cerita yang masih compang-camping disana sini, sukseslah saya masuk alumni pasukan #15HariNgeblogFF2. Terima kasih untuk masmin dan yumin yang sudah membuat proyek ini ada. Jangan pernah kapok, walau mungkin sudah banyak yang ‘bolos’. Semoga mata dan semangat kalian sehat selalu 🙂
Satu hal lagi. 15 hari tidak akan pernah cukup untuk mengelilingi Indonesia yang luar biasa ini.

Mungkin (Takkan) Ada Lagi

“Ini hari terakhir liburan, kan?”
“Iya. Seminggu ternyata cepat sekali.”
“Padahal belum semua tempat aku datangi.”
“Sama. Ada nelayan bilang dia tahu spot bagus di Misool.”
“Kamu sudah ke tempat yang ada tebing vertikalnya?”
“Sudah. Sempat deg-degan. Aku kira palung laut, ternyata bukan.”
“Aku banyak dapat kejutan disini.”
“Sama. Aku cuma nggak kuat panasnya.”
“Ahh…panas disini nggak ada apa-apanya…”
“Jelas. Kamu biasa dengan panas yang jauh lebih gila dari disini.”
“Hahaha! Iya sih…”
“Balik hari ini?”
“Iya. Kamu?”
“Sama. Naik kapal siang?”
“Iya. Tapi aku dapat flight terakhir. Maklum, banyak yang satu tujuan.”
“Aku harus kejar-kejaran. Kalau sampai kapal nggak on time, bisa ketinggalan flight. Ruteku minim.”
“Ahh…sebenarnya berat meninggalkan tempat ini…”
“Iya, aku juga.”
“Mana jatah cuti liburan kita sedikit…”
“Mungkin nggak ya, ada liburan seperti ini lagi?”
“Moga-moga, sih. Aku belum puas menjelajah daerah ini.”
“Sip! Lain kali kita janjian lagi, yah!”
“Oke!”
Mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan pantai pulau Waigeo. Kembali ke ‘dunia nyata’. Kembali pada tugas mulia mereka.
Sebagai penjaga surga dan neraka.

Langit pun Tersenyum

<a

“Kami juga mempunyai paket diving. Lengkap dengan sewa alat selamnya.”
“Hari ini saya cuma mau berenang dan snorkeling saja.”
“Membutuhkan perlengkapannya, mungkin? Wet suit?”
Aku mengangkat snorkel dan masker di tangan kiri. Dia tersenyum mengerti. Aku meninggalkan meja resepsionis hotel, setelah meminta untuk mengirimkan sepucuk surat.
*
Aku berdiri membeku. Kakiku terbenam dalam pasir putih. Wakatobi. Wangi-wangi, Kaledupa, Tomea, Binongko dan pulau-pulau kecil yang bertebaran di sekitarnya. Beberapa cottage bertebaran tak jauh dari tepi pantai. Dipagari pohon-pohon kelapa tinggi yang melambai-lambai. Pun dibingkai langit biru cerah ceria yang seperti sedang tersenyum menyambutku. Ini lebih dari sempurna.
Aku bergerak memasuki air laut. Hangat dan jernih. Beberapa ikan menari menghindari gerakan kakiku. Mencoba berenang kesana kemari dengan gaya punggung. Menikmati sinar matahari yang belum berubah menjadi terik.
Kubasahi kaca masker bagian dalam dengan sedikit ludah agar tak berembun. Memastikannya lekat di wajah. Memasang snorkel dan mencoba bernafas tanpa lewat hidung. Berhasil. Mari kita mulai.
Aku masih mengapung di permukaan air, namun wajah ku terbenam di bawahnya. Merekam pemandangan yang luar biasa indah di bawah sana. Entah, apa ada yang lebih bagus pemandangannya dari yang ku lihat sekarang. Ikan-ikan, terumbu karang, juga binatang laut lainnya, seperti memanggilku untuk bermain bersama mereka.
Aku kembali melihat sekeliling di permukaan air. Tak terlalu banyak orang. Mereka sedang sibuk dengan diri sendiri. Mungkin ini waktu yang tepat. Bermain dengan penghuni laut di bawah sana. Tanpa ada seorangpun yang tahu.
Kulepas snorkel, mengambil nafas panjang, lalu perlahan menyelam ke bawah air. Semakin dalam, dalam dan dalam. Semakin indah, indah dan indah. Ini surga. Ternyata ada di bumi. Dan aku tak perlu meregang nyawa dulu sebelum mengunjunginya. Tak perlu harus menjadi anak baik dan berbakti untuk menjadi penghuninya. Juga tak perlu merasakan sakit yang teramat sangat hanya untuk mendapatkan tiketnya.
“Sabar, Nak. Jangan membalas. Jadilah anak baik. Maka kau akan masuk surga nantinya.”
Itu kalimat ibu. Yang selalu diucapkannya setiap kali tamparan, pukulan, tendangan caci dan maki ku dapat dari ayah. Ibu, aku sudah di surga sekarang. Tanpa harus menjalani itu semua.
Perlahan aku menginjak dasar berpasir. Menyapa para penghuninya. Melepas masker yang melekat di kepala. Meletakkannya tak jauh dari terumbu karang berbintang laut jingga, lengkap dengan snorkelnya. Aku ingin tinggal di surga, bu.
Mataku perih tersapu air asin. Nafas sudah tak mampu ku tahan lagi. Tapi senyum masih terkembang, seperti bayangan langit yang semakin lama semakin kabur.
Sudah waktunya. Aku memejamkan mata. Air laut menderas lewat hidung dan tenggorokan. Semakin lama, semakin ringan. Aku resmi penghuni surga.
Ibu, semoga kau menerima sepucuk surat yang kukirimkan. Walau mungkin jasadku tak pernah ditemukan.

Aku tak mengerti

Aku tak mengerti.
Aku sudah lama menjaga museum kota Makassar. Lama sekali. Tapi kenapa tak banyak pengunjung yang datang? Sepi. Jangankan saat hari biasa, ketika akhir pekan dan libur pun pengunjung bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki.
Aku tak habis fikir.
Museum ini menyimpan banyak sekali benda bersejarah. Tak hanya peninggalan masa penjajahan, tapi juga benda-benda jaman keemasan raja-raja di Nusantara. Lebih dari sekedar berharga. Tak semua negara memiliki kekayaan ini. Bukan berarti dengan disimpan di museum ini, semua masalah terselesaikan. Perawatan, penelitian lebih lanjut dan semua hal yang berkait masih harus dilakukan. Untuk apa lagi kalau bukan untuk generasi penerus.
Aku masih ingat.
Museum ini sempat terbakar tahun lalu. Menghanguskan beberapa bagian dan isinya. Walaupun sudah berhasil di restorasi, tapi tak bisa kembali seperti semula. Menyedihkan.
Ah, aku melihat seorang laki-laki. Berjalan kemari bersama dua orang anak kecil. Masih ada juga orang tua yang mengantar anak-anaknya mengunjungi museum di hari Minggu seperti sekarang. Senang mengetahuinya.
“Ayo, foto di atas meriam. Kakak, adik dipegangi, jangan sampai jatuh.”
Iya. Ayo naik di punggungku. Kita berfoto bersama.