Catterpillar

“Aku ini semacam benalu, sepertinya…”

“Ah! Siapa bilang?”

“Perasaanku…”

“Kamu itu mahluk luar biasa.”

Ulat menoleh. Bunga mawar tak jauh darinya tersenyum manis.

“Bagaimana bisa aku ini mahluk luar biasa?”

“Kamu merasa seperti benalu karena hanya makan sepanjang waktu, kan? Dan merasa buruk rupa? Dan bergerak dengan lambannya?”

Ulat mengangguk lemah.

“Tapi disitulah luar biasanya. Kamu tak perlu menjadi gesit. Tak perlu kuat, ditakuti, bisa terbang atau apapun supaya dianggap keren. Kenapa? Dengan kelambananmu dan hobi makanmu, benang-benang halus kau hasilkan. Serat-serat itu yang nantinya akan dipintal dan dianyam menjadi sutra yang indah dan mahal luar biasa. Kau tahu itu?”

Ulat mengangguk.

“Tanpa kau dan teman ulatmu yang lain, punah satu jenis kain.”

“Tapi apalah artinya saju jenis kain, Mawar…”

“Mungkin kamu tak seperti lebah yang madunya sangat bermanfaat. Bahwa manusia tanpa madu, hanya mampu bertahan tiga bulan. Tapi dari kain sutra kita belajar tentang keindahan, kerja keras dan keuletan.”

Mata ulat membinar. Bunga mawar kembali tersenyum.

“Jangan pernah rendah diri. Tuhan pasti punya rencana ketika menciptakan mahluk-mahluknya.”

Ulat tersenyum lebar.

“Terima kasih mawar…”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s