Manusia Biasa

Ibu itu manusia biasa. Bukan malaikat, apalagi Tuhan. Bisa marah, sedih, bete, galau, lupa, capek, senang, gelisah, gugup dan banyak lagi. Tapi, sosok ibu begitu dimuliakan. Bahkan di agama yang saya anut, ibu mendapat tempat yang istimewa. Sehebat itu.

“Beban, tau nggak?”

Itu ujar seorang teman, ibu dua putra yang umurnya hanya berselang setahun. Begitu sempurnanya sosok ibu dimata semua orang, sehingga kadang menafikan mereka sebagai manusia biasa. Dengan semua emosi yang dimiliki.

“Ibu dimata orang kebanyakan itu seperti dewi. Penyabar, welas asih, memikirkan keluarga dan lingkungannya. Nggak ada kurangnya, deh! Padahal kita kan juga suka bete kalo anak-anak nakal, jengkel kalo harga sembako naik, kadang egois pegang remote televisi waktu nonton sinetron.”

Sedemikian paten kemuliaannya, terkadang ada orang yang memandang sinis ibu yang bekerja dan atau berkarir. Bukan untuk mendapat income tambahan buat keluarga, tapi lebih karena untuk aktualisasi diri.

“Kenapa? Salah? Dosa?”

Tanya seorang ibu yang sudah berkarir sejak masih gadis. Tak jadi masalah dulu. Tapi kemudian banyak pertanyaan tentang kelangsungan karirnya setelah berkeluarga.

“Selama suami mengijinkan, masa modoh apa kata orang lain. Keluarga tetap jadi prioritas nomor satu buatku. Kalaupun ada masalah yang harus berbentrokan, aku akan lihat prioritas utamanya. Ibu itu perempuan. Dan perempuan adalah mahluk dengan kemampuan multitasking. Itulah mengapa perempuan yang bisa melahirkan dan punya anak, karena dia punya kemampuan untuk melakukan dan memikirkan banyak hal dalam satu waktu.”

Panjang dan lebar. Tapi menjelaskan semuanya. Tak berarti keluarga, apalagi anak, jadi urutan nomor sekian. Tapi ada kebutuhan pribadi, semisal aktualisasi diri dan berkarya, yang juga harus dipenuhi. Dan kebutuhan-kebutuhan pribadi itu cenderung dilihat sebagai hal yang negatif untuk dijalani oleh seorang ibu. Ibu yang dipandang sebagai mahluk mulia. Bukan sebagai manusia pada umumnya.

Lalu, apa kabar ibu yang melakukan aborsi diluar alasan medis? Atau ibu yang membuang atau membunuh bayinya? Masihkan ada surga di telapak kaki mereka?

“Ibu yang melakukan itu bisa jadi adalah mahluk paling kejam dimuka bumi. Lupakan kanibal, teroris, diktator, pembunuh psikopat, atau apapun. Kekejaman mereka tak ada apa-apanya dibanding ibu yang mampu membuang atau membunuh anaknya sendiri.”

Seorang ibu muda berapi-api mengatakannya. Bisa jadi benar adanya. Terlepas seorang ibu adalah manusia biasa. Tapi memusnahkan darah daging sendiri? Entah adakah perbuatan yang lebih kejam dari itu.

Bagaimana dengan ibu yang tak bisa memiliki anak dari rahimnya? Pantaskah dia disebut seorang ibu?

“Dia perempuan luar biasa. Seorang ibu yang dikirim Tuhan untuk menyayangi anak-anak yang tidak lahir darinya. Ibu yang punya kasih sayang berlimpah. Sedemikian berlimpahnya sehingga terlalu banyak jika hanya dimiliki oleh anaknya sendiri. Begitu banyak anak yatim dan piatu dimuka bumi ini yang akan berbahagia dengannya.”

Seorang ibu setengah baya berujar. Ah, kadang tak terpikir dari sudut pandang ini. Begitu besar tekanan dai lingkungan untuk memiliki anak kandung, sering kali membuat ibu lupa untuk bersinggungan dengan perspektif positif. Pun mengambil makna dari cobaan. Sekali lagi, karena ibu adalah manusia biasa.

Lalu, salahkah kita memuliakan ibu?

Tentu tidak. Hanya muliakanlah ibu sewajarnya. Tanpa menjadi alpa betapa berartinya sosok seorang ayah. Tetap memijakkan kaki di bumi. Manusia biasa yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena, apapun yang berlebihan, baik positif maupun negatif, tak akan menjadi baik pada akhirnya.

 

2 thoughts on “Manusia Biasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s