Wake up call

Pernah mengalami suatu kejadian yang membuat ‘tersadar’? Saya pernah. Orang lain mungkin lebih sering menyebutnya sebagai ‘turning point’. Sedang saya, lebih suka menyebutnya ‘wake up call’. Sebegitu hebatnya, sampai bisa membuat saya tersadar, bahwa yang saya lakukan selama ini adalah salah.

Dan, tema ‘wake up call’ saya kali ini adalah masalah kesehatan. Yes, indeed. Klise? Mungkin. Tapi, saya beruntung, karena tidak harus mengalami sendiri semua kejadian ini.

Pernah menjenguk teman atau kerabat yang sakit di rumah sakit? Terkadang kita hanya heboh soal jadwal bezuk, buah tangan dan teman bareng. Yang selama ini saya lakukan justru observasi dan interview. Apa dan bagaimana hingga si sakit bisa berkamar disana? Gejala, rasa, juga pengobatannya. Kadang saya juga suka melakukannya pada orang lain yang mungkin satu ruang dengan si sakit. Dari sana saya bisa belajar banyak. Terutama tindakan preventif agar tak sampai harus terjangkit. Juga menjadi lebih bersyukur diberikan kesehatan yang prima oleh Tuhan YME.

Di kasus yang berbeda. Saya seorang pecinta kopi. Mengkonsumsinya sejak SMP. Dan menjadi sedikit tergantung dan kecanduan saat mahasiswa. Seduh, minum, habis, seduh, minum, habis. Begitu seterusnya, tak berkesudahan. Semakin menjadi saat tahun-tahun terakhir kuliah. Hingga suatu saat, saya dikejutkan oleh berita tentang seorang teman yang harus dibawa ke UGD karena bermasalah dengan perutnya. Usut punya usut, dia memiliki kebiasaan yang sama dengan saya tentang konsumsi kopi. Parahnya, teman ini sampai lupa makan karena sibuk berkutat dengan skripsi. Jadilah, organ pencernaannya berontak. Hingga harus dikuras habis di bilik UGD. Sejak itu, saya jadi lebih menjaga kesehatan tubuh. Mengurangi konsumsi kopi sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya, sekarang saya hanya mengkonsumsi satu gelas kopi sehari. Kopi juga jadi terasa lebih berarti, karena saya lebih bisa menikmatinya.

Di kasus yang lain. Terjadi belum lama ini. Ketika seorang internist menyebutkan bahwa dari hasil laboratorium, diindikasi jika bapak memiliki kecenderungan gula darah tinggi. Lebih karena gaya hidup, bukan karena faktor genetik. Pun beruntungnya, diketahui sejak dini, sehingga masih bisa disembuhkan, asal rajin dan disiplin. Dan, jika selama ini selalu mengkonsumsi makanan dan minuman manis, sekarang berbalik 180 derajat. Sulit, mengingat ini sudah jadi kebiasaan lebih dari 70 tahun usia beliau. Tapi bukan berarti mustahil, kan? Hebatnya, kebiasaan baru ini menular ke seisi rumah, termasuk saya. Kebiasaan baru yang sehat, kenapa tidak ikut didalamnya? Mungkin belum bisa menghilangkan konsumsi gula sama sekali, tapi pengurangannya sudah mencapai lebih dari 50%. Dan buat saya, itu prestasi!

Jadi, intinya, saya bersyukur diberi ‘wake up call’ dini. Ketika semua belum terlambat buat saya dan tak harus mengalami semuanya sendiri.

Lalu, apa ‘wake up call’ anda?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s