The Letter

Aku duduk diam. Didepanku, selembar kertas putih tergeletak di atas meja. Menantang. Deretan tulisan berbaris rapi. Ada titik-titik yang harus ku isi jujur. Bukan kertas soal ujian, tapi rasanya jauh lebih berat menghadapinya. Bukan kertas berita acara akad nikah, tapi aku harus menuliskan nama kita disana. Namaku, juga namamu.

Aku menoleh ke kiri. Kamu ada disana. Terbaring telentang lemah dengan kepala menoleh padaku. Raut pias dengan sorot mata yang belum pernah aku lihat selama ini. Ada sedih. Ada sakit. Ada sesal, pun permohonan maaf. Tanpa kata. Tanpa isak dan rintih. Tapi air mata tak berhenti mengalir dalam diam.

Ingin rasanya ku memelukmu. Menghiburmu. Berkata bahwa semua baik-baik saja. Tak terjadi apa-apa. Tapi itu hanya akan jadi omong kosong belaka. Kita tahu. Kamu dan aku tahu bahwa semua tidak baik-baik saja karena sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang sudah berulangkali terjadi pada kita. Aku hanya bisa memastikan bahwa kamu tak sendiri. Ini sedih kita. Duka kita. Sakit kita.

Kembali ku tatap secarik kertas yang masih sama sejak tadi. Sudah kutulis nama kita disana. Tapi aku tak sanggup melanjutkannya. Ini bukan yang pertama, tapi tak menjadi semakin ringan walau telah jamak terjadi. Berat. Sangat. Dengan memori yang berkelebat. Tentang kamu yang menangis sesenggukan. Tentang gumpalan darah dan daging dalam bejana besar. Tentang aku yang harus memastikan semua berjalan dengan semestinya walau harus mengabaikan perasaan yang berkecamuk. Memori yang berulang sekian kali laksana dejavu. Jika harus ku tukar dengan seluruh harta dan jiwa, aku tak ingin mengulanginya walau hanya sekali.

Kudekati  kertas putih diatas meja. Tulisan ‘abortus habitualis’ membuatku mual. Lebih dari tiga kali berturut-turut. Itu bukan prestasi yang harus dibanggakan. Tatapan mataku mengabur karena air mata. Pena di tangan bergetar gemetar. Ku pastikan semua data terisi benar. Dan ketika tanda tangan tertera jelas, hati ini kebas. Aku serasa pembunuh legal.

Maafkan bapak, Nak…

 

4 thoughts on “The Letter

    • Bisa banget. Penyebabnya macam-macam, tapi kasus terbanyak dari si ibu. Bisa karena masalah rahim, indung telur, hormon, dll. Makanya, mending pre marital medical check up sebelum nikah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s