Pilihan

“Namanya juga hidup, pasti ketemu pilihan…”

Kalimat itu saya dengar kemarin sore. Tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Yang membuat saya tertarik adalah, betapa pilihan-pilihan yang muncul selama kurun waktu masa hidup seseorang bisa berbagai macam kemungkinan. Dari yang ringan sampai yang maha berat. Dari yang menyenangkan hingga menyebalkan.

Ketika anak-anak, pilihan yang sering muncul, jamak yang menyenangkan dan ringan. Khas usia mereka. Apakah telur menu makan siang ingin di dadar atau di mata sapi? Apakah gambar matahari akan diwarnai kuning atau jingga?

Semakin bertambah usia, semakin komplekslah pilihan yang dihadapi. Dari pilihan sekolah, perguruan tinggi, pekerjaan, pendamping hidup dan lain-lain. Bahkan, setelah meninggal pun, seseorang masih meninggalkan pilihan bagi orang-orang yang ditinggalkan: akan dimakamkan dimana?

Terlepas dari apapun pilihan yang dihadapi, masalah yang muncul ke permukaan adalah bagaimana kita konsisten dan bertanggungjawab atas pilihan kita. Dari sini kedewasaan seseorang akan terlihat.

Pernah dengar curhat seorang mahasiswa, betapa dia malas menyelesaikan pendidikannya, karena dia dulu dipaksa oleh orang tua untuk menekuni jurusan yang tak disukainya? Boleh jadi orang tua memaksa, tapi keputusan akhir tetap ada ditangan yang bersangkutan, bukan? Antara mengikuti kemauan orang tua yang tidak disukai atau memilih pendidikan yang disukai namun kemungkinan tidak direstui dan dibiayai orang tua. Keputusan ada di tangan pelaksana dan yang bersangkutan harus konsisten serta bertanggungjawab untuk menjalankan dan menuntaskan pilihannya. Bukan lalu mengeluh dan meninggalkan semuanya di tengah proses.

Juga ketika seseorang memilih jenis dan lapangan pekerjaan. Ketika tawaran itu datang, keputusan tetap ada ditangan yang bersangkutan, akan menerima atau menolak. Jika pilihan sudah dijatuhkan, kerjakan semuanya dengan professional, sepenuh hati juga bermanfaat buat orang banyak. Bukan lalu bermalasan atau menjelekkan tempat kerja serta atasan dan kolega, saat kenyataannya tak sesuai harapan.

Atau seseorang yang sudah menentukan pilihan pendamping hidup. Terimalah semua lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Jangan lalu mengeluh apalagi mengakhiri hubungan yang direstui Tuhan hanya karena hal sepele yang baru diketahui di tengah perjalanan.

Pilihan-pilihan yang kita temui sepanjang hidup, sejatinya tak hanya memberikan warna, tapi juga mendewasakan diri. Jadi, bersyukurlah setiap kali menjumpainya. Dan, jangan lupa…nikmati dan jalani pilihanmu.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s