Kerudung Merah

Namanya Hamonangan. Artinya kemenangan. Mengaku bermarga Simbolon yang asli Samosir.

“Panggil saja Monang, Bang.”

Remaja tanggung yang tiba-tiba menghampiriku saat baru tiba di Toba suatu siang. Dengan ramah menyapa, serta menawarkan diri sebagai tour guide.

“Bermalamkah, Bang?”

“Iya. Parapat. Semalam saja.”

“Sendiri, Bang?”

“Aku sedang tugas di Medan. Ada waktu sedikit untuk main kesini.”

“Lain kali datanglah bersama keluarga, Bang. Jangan waktu musim libur. Ramai. Yaaa…seperti sekarang ini, lah. Tenang. Nyaman. Iya, tak?”

Dia meminta persetujuanku sambil tersenyum lebar. Kami lalu berjalan di tepi danau setelahku check in dan meletakkan barang di hotel.

“Sayang abang datang sudah terlalu siang. Kalau tidak, kita bisa menyeberang dan berkeliling pulau Samosir. Ku kenalkan pula pada emak aku.”

Aku tertawa. Dia seperti sudah lama mengenalku.

“Danau ini, Bang, kalau pagi dan sore airnya hangat. Enak kali buat berenang. Kalau siang airnya malah dingin, Bang…”

Aku manggut-manggut mendengar penjelasannya.

“Aku lapar, Monang. Ada restoran yang makanannya enak?”

“Abang suka pepes ikan? Disini ada yang jual, enak kali pepes ikan masnya. Warung kecil-kecilan. Tapi bersih dan rapi.”

Aku sepakat. Kami berjalan beriringan. Di tengah perjalanan, tiba-tiba terlihat anak perempuan berkerudung merah sedang bermain sendiri di bawah pohon.

“Itu Tiur. Adikku, Bang.”

Monang lalu berteriak memanggil Tiur. Mengucapkan kalimat yang entah apa artinya. Tapi sepertinya Tiur tak mendengar. Aneh. Padahal kami hanya berseberangan jalan.

“Dia memang begitu, Bang. Kalau sudah asyik bermain, lupa segalanya.”

Kami masuk warung makan yang dituju. Monang menolak ketika kutawari makan bersama.

“Terima kasih, Bang. Saya sudah makan tadi. Lagipula, penduduk asli Samosir pantang makan ikan mas dari danau Toba.”

“Oya? Kenapa begitu, Nang?”

Monang lalu bercerita tentang asal-usul penduduk Toba yang konon keturunan ikan mas penghuni danau. Sehingga dipantangkan memakan ikan dari danau Toba, yang berarti memakan saudara sendiri.

Hari bergulir sore. Aku masih ingin berkeliling, namun Monang pamit undur diri.

“Aku harus mengejar jadwal kapal ke Samosir, Bang. Terakhir sore ini. Besok pagi kita jumpa lagi.”

Kami berpisah di depan warung pepes ikan mas. Dia melesat hilang tak lama kemudian. Aku masih melenggang santai, ketika kembali bertemu anak perempuan berkerudung merah. Masih di tempat yang sama.

“Tiur…?”

Dia menoleh ketika ku dekati. Mengambil jarak denganku yang masih asing.

“Kau Tiur, kan? Adiknya Monang?”

Dia mengangguk.

“Kau tak pulang ke Samosir? Nanti bisa tertinggal kapal.”

Sorot matanya keheranan.

“Aku tinggal disini, Bang. Rumahku disana…”

Dia menunjuk jalan kecil ke arah Timur. Sekarang, ganti aku yang bingung.

“Tapi tadi Monang bilang rumahnya ada di Samosir. Jadi dia buru-buru pulang supaya tak tertinggal kapal…”

Raut muka Tiur berubah.

“Abang kapan bertemu bang Monang?”

“Tadi siang. Dia menemaniku berkeliling Toba.”

Wajah Tiur pias. Kontras dengan kerudung merah yang menghias kepala mungilnya.

“Bang Monang memang di Samosir, Bang. Dia dimakamkan disana…”

Aku tercekat.

 

2 thoughts on “Kerudung Merah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s