Sehangat Serabi Solo

Tersebutlah seorang laki-laki bernama Lanang. Teman kuliah yang memutuskan mengais rejeki dan berkeluarga di Solo. Lama tak bertemu, dia masih berkenan mengantarku berkeliling.

“Nih!”

Dia mengangsurkan piring berisi lima serabi Notosuman yang masih hangat. Aku hanya bisa termangu diantara gigitan demi gigitan. Gurihnya santan terasa pas di lidah. Tidak kurang. Tidak lebih. Nikmat.

“Kalau mau rasa lain, ada lho. Cokelat, keju, pisang, nangka…”

Aku menggeleng. Original. Tak perlu yang lain.

“Kamu mau kemana lagi?”

“Aku mau cari oleh-oleh batik buat ibu.”

“Ayo ke Klewer.”

*

Seperti pasar pada umumnya. Penuh pedagang dan pembeli. Hanya bahasa yang membedakan. Pasif. Aku hanya bisa mengerti pembicaraan mereka tanpa bisa berkata-kata. Bahasa yang inggil.

“Mau beli apa? Baju? Kain? Daster?”

“Kain. Untuk berkebaya. Tapi yang tulis, bukan cap.”

Lanang tersenyum. Entah kenapa senyumnya terasa beda.

“Istriku punya langganan yang jual kain batik halus…”

Tiba-tiba Lanang mendekatkan wajahnya. Membisikkan sesuatu yang sanggup membelalakkan mataku.

“Edan kamu, Nang!”

“Ikut saja. Nanti aku kasih tahu.”

Melewati beberapa lorong, sampailah kami di lapak tujuan. Seorang perempuan 30-an menyambut kami dengan hangatnya.

Eh, mas Lanang. Mboten sareng mbak Ranti?” (1)

Ora. Aku ngeterke kancaku. Arep nggolek oleh-oleh batik.” (2)

Wah, monggo lho, Mas. (3) Mau yang seperti apa? Semuanya ada.”

Dia menggelar beberapa kain batik. Mulai dari motif tradisional sampai kontemporer. Indah dan cantik. Ditengah kebingungan memilih, konsentrasiku dibuyarkan oleh Lanang yang membuka pembicaraan dengan penjual batik. Kerlingnya memintaku untuk memperhatikan.

Iki motif anyar yo, Mbak?” (4) Lanang menunjuk tumpukan kain tak jauh dari si mbak.

Inggih, Mas. Meniko enggal, saking Pekalongan.” (5)

Piro, Mbak?” (6)

Gangsal atus, Mas.” (7)

Wah, larang…” (8)

Saged kirang kok, Mas.” (9)

Telung atus, piye?” (10)

Lah, njih mboten saged, Mas.” (11)

Pas e piro, Mbak?” (12)

Sekawan atus pitung doso gangsal.” (13)

Wah, mung mudhun sithik.” (14)

Sampun kathah-kathah to, Mas.” (15)

Nek sing iki piro?” (16)

DEG! Tanpa sadar aku melotot. Lanang menunjuk baju yang dipakai penjual. Ku perhatikan, wajah si mbak tiba-tiba bersemu malu-malu.

Emmm…sak kerso panjenengan, Mas.” (17)

Lanang menyeringai padaku.

Edan! Benar ternyata.

Penjual ini bisa ‘dibeli’.

 

(1) Eh, mas Lanang. Nggak bareng mbak Ranti?

(2) Enggak. Aku bareng temanku. Mau mencari oleh-oleh.

(3) Wah, silahkan lho, Mas.

(4) Ini motif baru ya, Mbak?

(5) Iya, Mas. Ini baru, dari Pekalongan.

(6) Berapa, Mbak?

(7) Lima ratus, Mas.

(8) Wah, mahal…

(9) Bisa kurang kok, Mas.

(10) Tiga ratus, gimana?

(11) Lah, ya nggak bisa, Mas.

(12) Pasnya berapa, Mbak?

(13) Empat ratus tujuh puluh lima.

(14) Wah, cuma turun sedikit.

(15) Jangan banyak-nanyak, Mas.

(16) Kalo yang ini berapa?

(17) Emmm…terserah kamu, Mas.

 

2 thoughts on “Sehangat Serabi Solo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s