Ramai

Aku berdiri sambil mengedarkan pandangan. Stasiun tugu ini sudah banyak perubahan disana-sini. Lama sekali aku tak kemari. Hanya melintas tanpa benar-benar turun ketika kereta berhenti disini. Tak ingin terlalu larut, karena perut sudah mulai menuntut. Ku langkahkan kaki ke jalan yang terkenal seantero umat. Malioboro.

Masih sama. Pedagang bertebaran di sepanjang trotoarnya. Aku memasuki salah satu gerai fast food di sisi Barat jalan. Bisa jadi hanya ini tempat netral buatku. Aku sengaja tak memilih gudeg atau apapun yang berkaitan dengan kota ini. Karena aku masih ingin tetap meginjak bumi.

Sepaket ayam goreng tepung, nasi dan soft drink tersaji di meja dekat jendela. Aku melempar pandangan ke luar. Jalan ini tak akan pernah sepi. Orang dan aneka kendaraan ramai hilir mudik tak kenal henti. Sama seperti kerinduanku yang juga meramaikan sebagian sisi hati, dan berbagi sisi lain dengan rasa sakit dan sedih yang menyayat.

Berusaha makan sesuap demi sesuap, sambil mengingat-ingat berapa lama aku tak kemari. Astaga, sudah lima tahun! Dulu, kota ini ku datangi setiap mudik lebaran. Bersama bapak, ibu, kakak-kakak dan adik tersayang. Bermain di halaman rumah kakek yang luas bersama para sepupu. Begitu menyenangkan. Hingga lima tahun lalu, peristiwa yang membuat kota ini menjadi begitu menyakitkan, terjadi.

Piring dan gelasku tandas. Aku tak mau terlalu lama disini. Aku datang ke kota ini hanya ingin melakukan satu hal. Secepatnya dan setelah itu angkat kaki tanpa ingin menoleh ke belakang. Ku seberangi jalan yang padat merayap. Menghentikan satu taksi kosong yang melintas. Memberikan secarik kertas berisi alamat pada pengemudinya. Aku ingin semuanya selesai. Secepatnya.

*

Aku berdiri di depan gapura. Sepi. Tapi hatiku masih ramai oleh rindu dan sedih. Aku tak mau terlalu lama dijajah galau. Ku langkahkan kaki memasuki pelatarannya. Terbentanglah, deretan makam yang terawat rapi. Sudah lima tahun lewat. Ku susuri baris demi baris, hingga sampai di deret paling Timur bertetangga dengan pagar. Aku bersimpuh di depannya. Berusaha khusyuk dalam doa. Memohon yang terbaik padaNya.

Hatiku lebih tenang sekarang. Berusaha menyungging senyum.

Ya. Aku rindu.

“Hai. Aku datang lagi…”

Kakek. Nenek. Ibu. Kakak- kakak dan adik. Tanpa aku dan bapak.

Lima tahun lalu.

Ketika kereta api menyambar mobil yang mereka tumpangi di perlintasan rel tanpa penjaga.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s