Aku kembali

Aku duduk di bangku panjang milik sebuah warung kaki lima, tak jauh dari kantor pos besar Kebonrojo. Menyesap teh manis sedikit demi sedikit. Sambil sesekali mengunyah pisang goreng yang tersedia di meja.

Surabaya. Kapan terakhir aku menginjaknya? Rasanya sudah lama sekali. Bisa jadi belasan tahun lalu. Ketika aku, si lugu, yang pertama kali datang ke kota besar untuk mengadu nasib. Apapun, sampai terdampar di pelabuhan Tanjung Perak. Menjadi kuli panggul di sepanjang kali mas. Atau kuli angkat di kapal-kapal milik PELNI. Hanya kekuatan fisik yang aku punya. Hingga, aku berjumpa dengan seorang laki-laki.

“Ikut aku saja. Kerja di luar negeri, jadi TKI.”

Bicara dan gerak-geriknya sungguh meyakinkan. Dia bercerita tentang kesuksesannya. Aku tergoda. Dia berjanji, takkan terjadi hal yang tidak diinginkan. Akupun setuju, seperti kerbau dicocok hidung.

Aku kembali menyeruput teh. Kali ini ada tahu petis di tangan kanan. Kembali mengunyah sambil mengingat peristiwa yang terjadi selama belasan tahun terakhir. Menyakitkan, pun menyedihkan. Orang yang ku percayai ternyata ingkar. Adalah benar aku dibawanya ke negeri orang, namun sebagai pekerja gelap. Tak diperlakukan layaknya manusia, dipekerjakan dengan upah yang jauh dari layak, tak pernah bisa tidur nyenyak karena selalu ketakutan tertangkap aparat, sudah jamak kurasakan.

Aku memandang sekeliling. Surabaya lebih cantik sekarang. Gedung tua di sudut jalan sana sudah jadi kantor sebuah bank. Pun bank Indonesia di depanku seperti baru direnovasi. Sepanjang perjalanan menuju kemari, bangunan-bangunan tua jaman Belanda sudah banyak yang berubah peruntukannya. Semacam lega kembali kesini. Ingin segera pulang ke kampung halaman dan melupakan semua pahit getir yang ku alami.

Ku bayar teh dan beberapa gorengan yang masuk ke perut. Melangkahkan kaki ke dalam kantor pos yang besar. Menuliskan alamat di sampulnya, lengkap dengan perangko secukupnya. Memasukkannya dalam bis surat sambil tersenyum.

Aku pulang, Bu. Tunggu aku sebentar lagi.

Tapi sebelumnya, aku ingin menemui teman senasib sepenanggungan selama di negeri orang. Teman baik. Teman yang pulang lebih dulu sebelum aku.

Dikirim dalam sebuah peti mati.

 

4 thoughts on “Aku kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s