Langit pun Tersenyum

<a

“Kami juga mempunyai paket diving. Lengkap dengan sewa alat selamnya.”
“Hari ini saya cuma mau berenang dan snorkeling saja.”
“Membutuhkan perlengkapannya, mungkin? Wet suit?”
Aku mengangkat snorkel dan masker di tangan kiri. Dia tersenyum mengerti. Aku meninggalkan meja resepsionis hotel, setelah meminta untuk mengirimkan sepucuk surat.
*
Aku berdiri membeku. Kakiku terbenam dalam pasir putih. Wakatobi. Wangi-wangi, Kaledupa, Tomea, Binongko dan pulau-pulau kecil yang bertebaran di sekitarnya. Beberapa cottage bertebaran tak jauh dari tepi pantai. Dipagari pohon-pohon kelapa tinggi yang melambai-lambai. Pun dibingkai langit biru cerah ceria yang seperti sedang tersenyum menyambutku. Ini lebih dari sempurna.
Aku bergerak memasuki air laut. Hangat dan jernih. Beberapa ikan menari menghindari gerakan kakiku. Mencoba berenang kesana kemari dengan gaya punggung. Menikmati sinar matahari yang belum berubah menjadi terik.
Kubasahi kaca masker bagian dalam dengan sedikit ludah agar tak berembun. Memastikannya lekat di wajah. Memasang snorkel dan mencoba bernafas tanpa lewat hidung. Berhasil. Mari kita mulai.
Aku masih mengapung di permukaan air, namun wajah ku terbenam di bawahnya. Merekam pemandangan yang luar biasa indah di bawah sana. Entah, apa ada yang lebih bagus pemandangannya dari yang ku lihat sekarang. Ikan-ikan, terumbu karang, juga binatang laut lainnya, seperti memanggilku untuk bermain bersama mereka.
Aku kembali melihat sekeliling di permukaan air. Tak terlalu banyak orang. Mereka sedang sibuk dengan diri sendiri. Mungkin ini waktu yang tepat. Bermain dengan penghuni laut di bawah sana. Tanpa ada seorangpun yang tahu.
Kulepas snorkel, mengambil nafas panjang, lalu perlahan menyelam ke bawah air. Semakin dalam, dalam dan dalam. Semakin indah, indah dan indah. Ini surga. Ternyata ada di bumi. Dan aku tak perlu meregang nyawa dulu sebelum mengunjunginya. Tak perlu harus menjadi anak baik dan berbakti untuk menjadi penghuninya. Juga tak perlu merasakan sakit yang teramat sangat hanya untuk mendapatkan tiketnya.
“Sabar, Nak. Jangan membalas. Jadilah anak baik. Maka kau akan masuk surga nantinya.”
Itu kalimat ibu. Yang selalu diucapkannya setiap kali tamparan, pukulan, tendangan caci dan maki ku dapat dari ayah. Ibu, aku sudah di surga sekarang. Tanpa harus menjalani itu semua.
Perlahan aku menginjak dasar berpasir. Menyapa para penghuninya. Melepas masker yang melekat di kepala. Meletakkannya tak jauh dari terumbu karang berbintang laut jingga, lengkap dengan snorkelnya. Aku ingin tinggal di surga, bu.
Mataku perih tersapu air asin. Nafas sudah tak mampu ku tahan lagi. Tapi senyum masih terkembang, seperti bayangan langit yang semakin lama semakin kabur.
Sudah waktunya. Aku memejamkan mata. Air laut menderas lewat hidung dan tenggorokan. Semakin lama, semakin ringan. Aku resmi penghuni surga.
Ibu, semoga kau menerima sepucuk surat yang kukirimkan. Walau mungkin jasadku tak pernah ditemukan.

4 thoughts on “Langit pun Tersenyum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s