Bioskop

Hari Kamis kemarin, saya nonton film Indonesia di bioskop. Bukan filmnya yang mau saya ceritakan, tapi justru bioskopnya. Kenapa? Saya mengalami rasanya bioskop dari jenis layar tancap sampai yang keren seperti sekarang.

Dulu, rumah saya tidak jauh dari suatu perkampungan. Sebulan sekali, mereka mengadakan acara nonton bareng layar tancap. Udah keren banget deh buat mereka jaman itu. Suatu kali, saya yang masih kecil ditemani seorang pembantu, iseng ikutan nonton. Ternyata gratis! Penduduk kampung saweran untuk mendatangkan layar tancap ini. Hiburan murah meriah. Dan film yang saya tonton ketika itu adalah Cinderella dan sepatu kaca dengan Ira Maya Sopha sebagai bintang utamanya. Maklum, sedang libur sekolah🙂

Yang keren sebenarnya adalah para penjual makanan dan minuman yang ada di sekitar layar tancap. Ada bakso, sate, gorengan, kacang rebus, dll. Kesannya santai dibanding standar gedung bioskop saat itu.

Ngomong soal bioskop jaman dulu, nggak banget untuk ukuran sekarang. Lihat jadwal di koran (belum ada internet, kan..), datang ke gedung bioskop, antri beli karcis, beli minuman dan camilan, masuk studio, nonton film, selesai, pulang. Standar. Sebenarnya sama aja dengan yang sekarang. Tapi kualitas sangat standar. Segalanya. Bahkan, kalau beruntung, kita bisa dapat kursi yang ada kutunya. Sungguh mengaburkan konsentrasi🙂

Waktu bergulir. Jaringan 21 masuk. Kualitas bioskop naik. Layarnya lebih oke. Kursinya lebih empuk. Ruangan lebih dingin. Counter makanan dan minuman lebih variatif produknya, dll. Sayangnya, hanya ada di kota besar.

Lalu muncul XXI, XXI premier dan Blitz megaplex. Surga bagi penonton bioskop. Konsumen dimanjakan dengan fasilitas yang jauh lebih oke. Belum lagi kualitas film sekarang yang sudah digital dan juga kualitas suaranya. Menyempurnakan segalanya. Service pun di tingkatkan. Sempat terfikir ketika pesanan hot dog dan ice cappuccino saya di antar ke dalam studio. Sepertinya serupa ketika saya nonton layar tancap dulu. Hanya beda tempat dan barang yang di antar. Berharap kedepannya, bioskop juga menyediakan makanan yang lebih ‘Indonesia’, seperti bakso, soto, rawon, yang bisa menghangatkan tubuh yang didinginkan AC studio🙂

Ngomong soal bioskop nggak akan habis. Sebagai penonton yang cukup setia, cuma bisa menunggu dan berandai. Kira-kira, akan berkembang seperti apa lagi bioskop di Indonesia?

 

2 thoughts on “Bioskop

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s