Buka Puasa

Ada apa di meja ketika adzan maghrib berkumandang? Kurma? Teh manis hangat? Kolak? Kue-kue manis aneka rupa? Makanan berat penghilang lapar? Atau hanya air putih pembatal puasa?

Terlepas dari sunnah Rasul tentang tiga biji kurma sebagai hidangan berbuka puasa, kini alternatif hidangan sudah tak terhingga variasinya. Dari yang murah sampai yang tak terjangkau kantong kita. Bahkan, beberapa tempat sudah memproklamirkan diri sebagai sentra tempat perdagangan makanan untuk berbuka puasa. Sekali lagi, kecerdasan membaca peluang.

Namun, banyak yang jadi lupa esensi berpuasa. Saya tidak akan sok berkata ala ustadzah. Tapi bukannya puasa adalah momen latihan melawan hawa nafsu? Lalu, bila berbagai makanan dan minuman membanjiri meja makan setiap buka puasa, bisa disebut sukseskah puasa kita? Hanya menahan lapar dan haus di siang hari lalu membalaskan dendamnya di waktu maghrib? Hanya dengan mengucapkan ‘Alhamdulillah’ setelah puasa batal, tak serta merta ‘menghalalkan’ dendammu.

Kalau memang bulan Ramadhan bisa jadi ajang introspeksi dan memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik, kenapa tidak dimulai dari menu buka puasa kita?

Iklan

‘Menu’ Sahur

Apa menu sahurmu? Jawabannya pasti berbeda dari masing-masing orang. Dulu, waktu awal-awal belajar puasa, ibu selalu membuatkan telur mata sapi kesukaan saya, plus sayur yang tidak boleh absen di meja makan. Demi agar si anak mau bangun sahur di temani suara jangkrik di luar sana. Sungguh, bukan hal yang mudah untuk anak seumuran saya waktu itu.

Beberapa tahun kemudian, menu sahur saya bertambah dengan suara penyiar dari radio. Awalnya hanya dari stasiun bergelombang AM. Dan dirambah oleh penghuni FM beberapa tahun kemudian. Sahur menjadi lebih menyenangkan.

Televisi menyala menemani sahur ketika saya remaja. Masih monoton. Tausiah dan sedikit kuis. Ada Eko Patrio dan Ulfa Dwiyanti yang jadi pionir saat itu. Bangun sahur bukan lagi hal yang berat.

Saya sampai pada masa dimana semua stasiun televisi berlomba-lomba menemani makan sahur. Prime time bergeser ke dini hari. Semua menghambur uang dan hadiah lewat telekuis. Walau tausiah masih dikumandangkan para ustad dan kiai diantaranya. Pun sinetron religi memulai invasi. Dari yang drama sedrama-dramanya, hingga yang komedi selucu-lucunya. Telur mata sapi bukan lagi menu sahur utama bagi saya.

Dan puasa beberapa tahun terakhir, internet menemani saya. Semua yang ada di media konvensional, sekarang bergeser ke media online. Interaksi dua arah, oleh banyak pihak. Dikenal, maupun tidak. Sesuatu yang tak pernah terfikir oleh saya ketika masih sahur ditemani suara jangkrik.

Kalaupun saya diberi umur yang panjang untuk kembali bertemu bulan Ramadhan, saya ingin menjadi saksi dan pelaku sejarah perkembangan ‘menu’ makan sahur.

Kira-kira inovasi apa lagi, yah?

Tempe

Kedelai langka! Pengrajin tempe dan tahu ,mulai mogok produksi. Dan saya sebagai penggemar berat tempe (juga tahu), blingsatan. Walau masih beredar, tapi harganya yang mulai merangkak naik atau size-nya sedikit lebih langsing.

Awalnya, saya pikir ini efek menjelang puasa dan lebaran, dimana semua kebutuhan pokok harganya naik-naik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali. Daging sapi, ayam, ikan, telur, bumbu dapur, sembako, entah apa lagi yang harus di absen. Saya masih tenang-tenang. Begitu tempe menjadi (akan) langka, baru deh migren 😦

Katanya sih gara-gara harga kedelai impor meroket. Miris! Indonesia masih impor kedelai? Demi apa,coba! Saya tidak akan ‘ngomel’ dan mengeluh tentang kebijakan pemerintah dimasa perdagangan bebas seperti sekarang. Tidak punya solusi.

Tempe (juga tahu), yang katanya makanan sehat dan murah meriah, akan ‘naik kelas’. Menjadi makanan ‘kelas atas’ karena mahalnya. Tak kalah bersaing dengan daging wagyu atau kaviar. Setidaknya itu sisi ‘positif’nya. Sejauh ini, saya pribadi masih menunggu, apakah tempe (juga tahu), akan benar-benar jadi langka, atau harganya ikut meroket sangat tinggi seperti bahan makanan yang lain.

Kalaupun pada akhirnya benar-benar jadi langka atau harga yang melambung, setidaknya istilah ‘mental tempe’ akan berubah makna… 🙂

The Flame

Seumur-umur berpuasa, baru kali ini sahur ditemani acara yang sangat tidak biasa tapi luar biasa. Upacara pembukaan olimpiade London 2012. Ritual seremonial, sih. Tapi selalu meninggalkan bekas mendalam, terutama untuk orang yang memiliki masa lalu yang sama seperti saya.

Setiap kali penyelenggaraan, selalu ada yang baru. Dari stadion utamanya, hiburannya, dekorasinya, teknologi yang digunakan, masih banyak lagi. Excited! Walau tetap ada yang tidak dirubah, seperti janji atlet, wasit dan official, pengibaran bendera olimpiade, parade atlet dari berbagai negara, dan yang akan saya singgung kali ini adalah api olimpiade.

Penyalaan api olimpiade di cauldron adalah satu-satunya ritual yang masih dipertahankan dari jaman olimpiade pertama di Athena Yunani. Simbol semangat, sportifitas, pantang menyerah, saling dukung dan menghargai. Sejak diambil dari sumbernya berbulan-bulang lalu, api diarak menuju London, estafet dari tangan ke tangan dengan berbagai cara dan oleh begitu banyak orang. Dari anak-anak hingga veteran atlet. Hingga api ini sampai di titik tujuan, di depan cauldron yang siap dinyalakan.

Setiap kali penyelenggaraan olimpiade (juga event olahraga lainnya), momen ini selalu berkembang pelaksanaannya. Tapi, masih dengan satu filosofi. Bahwa olahraga bukanlah proses yang instant. Olahragawan, butuh proses panjang, lama dan berliku untuk sampai di titik ini.

Dan cauldron olimpiade kali ini, berbeda . Terdiri dari beberapa tiang yang ‘direbahkan’ menumpuk. Setelah tiang terbawah dinyalakan oleh para pembawa obor, api itu merambat ke tiang lain di sebelahnya, pun atasnya. Dan ketika semua sudah menyala, tiang-tiang ini lalu di berdiri tegakkan, menjadi satu cauldron. Jenius!

Perlambang yang sangat pas. Bahkan, ketika para atlet sudah sampai pada titik ‘boleh berlaga di ajang olimpiade’, mereka tetap masih harus berjuang untuk akhirnya menjadi yang terbaik dari yang terbaik.

Well, rasanya tidak rugi saya memilih untuk menonton televisi, alih-alih kembali tidur setelah sahur dan sholat subuh 🙂

PMS

“Jauh-jauh deh dari perempuan yang PMS!” ujar seorang teman laki-laki.

Saya hanya senyum-senyum. Memang, masa menjelang datang bulan, bisa dibilang lebih mengerikan dari film horor manapun. Apapun kemungkinannya bisa terjadi. Dari ekstrim kanan sampai yang kiri. Dan semuanya ‘menyeramkan’.

Ada perempuan yang masuk masa PMS tiba-tiba jadi galau maksimal. Apapun stimulusnya, langsung direaksi galau. Bahkan sampai menangis tak berkesudahan. Disisi lain, ada juga yang tiba-tiba berubah jadi galak dan lebih mengerikan dibanding induk singa yang baru beranak.

Saya tidak akan bicara masalah biologis. Ribet. Rumit. Toh, semua mempelajarinya di bangku sekolah. Ini lebih pada masalah ketidakseimbangan hormon. Dan hanya sesaat. ‘Dinikmati’ saja. Dihadapi saja. Memang butuh stok sabar yang luar biasa. Walau tak jarang ada juga perempuan-perempuan yang ‘memanfaatkan’ momen ini untuk mendapat perhatian lebih dari lingkungan, terutama pasangannya. Sekali-sekali agak ‘drama’, gitu…

Kalau saya sendiri? PMS bisa bikin saya jadi mesin pengunyah tiada henti. Makan, makan dan makan 🙂

Satu lagi. Biasanya saya jadi lebih pendiam. Itu saja.

Pendiam, ya? *krik

Kepo

“Batas antara perhatian dan ikut campur itu tipis banget,” ujar seorang teman.

Saya setuju. Apalagi di Indonesia dengan budaya Timur yang kental, dimana ‘care’ bisa punya banyak konotasi.

“Itu kenapa muncul istilah ‘kepo’. Susah dicari kosakata bakunya,” cengirnya.

Saya ikut tersenyum. Kepo bisa dibilang ada di twilight zone. Antara memberi perhatian dan agak ikut campur urusan orang lain, bahkan orang yang sama sekali tidak dikenal.

“Kenapa konotasinya negatif?”

“Enggak juga. Banyak yang positif. Cuma yang negatif sepertinya lebih terekspose dan cenderung bombastis.”

“O ya?”

“Iya. Kalau di sosial media, sering kita baca orang-orang yang meretweet atau meneruskan info seseorang yang membutuhkan pasokan darah segera. Atau kasus orang hilang. Atau info terkini tentang bencana alam. Apa bukan kepo namanya?”

Saya mengiyakan.

“Cuma…kasus-kasus negatif cenderung lebih menarik karena bombastis tadi.”

“Tapi nggak bisa disalahkan juga, kan?”

“Iya, sih. Terlepas itu negatif, tetap ada hal yang bisa diambil. Nggak perlu ‘terjun’ dalam kasus. Stalking aja. Dari masalah yang muncul, bisa diambil hikmah. Jadi nggak sampai terjadi lagi.”

Saya manggut-manggut.

“Sebenarnya cuma masalah pilihan, kok. Mau ikut kepo yang mana. Tapi kadang kepo berita-berita selebritis boleh juga. Biar gaul, gitu…”

“…..”

Kertas

Katanya buku jendela dunia. Saya akui itu. Dengan buku, tanpa perlu pergi kemanapun, saya bisa tahu banyak hal. Terlepas dari internet, tentu saja. Namun, buku punya sisi yang menyakitkan buat saya. Menyakitkan? Iya. Ini baru saya ketahui beberapa bulan lalu.

Saya penggemar buku, jauh sebelum bisa membaca. Melihat gambar-gambar di dalamnya, dibacakan, hingga bisa membaca sendiri. Dulu, semua mengingatkan saya untuk membaca dengan jarak yang aman minimal 30 cm plus dengan pencahayaan yang cukup terang. Saya turuti. Tak ada masalah. Hingga setahun kemarin, mata saya agak bermasalah.

Awalnya, hanya terpikir kalau minus mata saya muncul lagi, setelah sembuh belasan tahun lalu. Tapi, kenapa keluhannya berbeda? Bukan pandangan yang menjadi kabur, tapi saya menjadi sensitif terhadap intensitas cahaya yang mungkin termasuk biasa saja kadarnya. Ada apa ini?

Karena dirasa semakin mengganggu, saya pergi memeriksakan diri ke dokter mata. Dan, penjelasan dokter sukses membuat saya bengong. Ini penyakit para kutu buku!

JRENG!

Mata saya jadi sensitif terhadap cahaya karena terlalu sering membaca. How come? Padahal saya selalu membaca dengan pencahayaan ruang yang baik. Ternyata, semua berawal dari pentulan cahaya oleh kertas yang kemudian masuk ke mata. Selama ini, mayoritas buku yang beredar di pasaran menggunakan kertas HVS yang putih bersih. Kertas jenis inilah yang ‘berbahaya’ bagi mata untuk jangka panjang. Cahaya yang sedianya masih aman, bila dipantulkan oleh kertas jenis ini, akan menjadi cahaya yang merusak mata. Tidak terasa dalam jangka waktu yang pendek. Namun, akumulasinya akan menyebabkan mata menjadi sensitif. Itu yang terjadi pada saya sekarang.

Lalu, bagaimana cara menyembuhkannya? Tidak ada caranya. Nah! Lalu? Hanya bisa dikurangi intensitas kesensitifannya. Bagaimana caranya? Dengan membatasi membaca dari buku yang menggunakan kertas HVS. Sekarang, banyak buku yang menggunakan jenis kertas novel yang agak redup kekuningan. Jenis ini masuk dalam kategori aman bagi mata.

Selain itu, kurangi kegiatan yang ‘memaksa’ mata harus berhadapan dengan cahaya secara langsung. Seperti terlalu lama menghadap layar monitor atau televisi. Belakangan, saya juga membatasi mengemudi kendaraan di malam hari. Cahaya lampu dari kendaraan lain yang datang berlawanan arah sungguh menyiksa. Tentu saja, tetap mengkonsumsi makanan yang berguna bagi mata plus istirahat yang cukup.

Sayangnya, saya lupa meminta jurnal penelitian tentang jenis kertas yang berbahaya bagi mata pada dokter. Tak apa, semoga cerita saya ini bisa diambil hikmahnya.