Sedetik Untuk Selamanya

Kemarahan Sita sudah sampai ubun-ubun. Kulit wajahnya yang putih, sekarang memerah.
“Serigala berbulu domba! Pagar makan tanaman! Menggunting dalam lipatan! Musuh dalam selimut! Sahabat macam apa yang merebut pacar sahabatnya sendiri?!”
Reny mengernyit. Belum pernah dia melihat Sita marah sampai seperti itu.
“Aku belum putus dari Donny. Oke, kami memang sedang marah. Tapi bukan berarti putus, kan?”
Reny senyum. Eno memang rada sinting. Sudah tahu Sita impulsif seperti ini, masih berani cari masalah.
“Berani-beraninya perempuan itu menggandeng tangan Donny.”
Nah! Kalau Sita sudah ogah menyebut nama musuh, berarti akan tak termaafkan.
Konsentrasi Reny masih separuh ke layar laptop. Berburu tiket penerbangan. Sesekali dilihatnya Sita masih bersungut-sungut dalam diam.
“Sudahlah. Penting ya yang kayak gitu dipikirin? Ntar cepet tua, lho! Mending ikut aku aja ke Lombok waktu liburan semester. Papa udah tiga bulan tugas di Mataram. Nengokin sekalian jalan-jalan. Gimana? Ikutan?”
Sita terihat lebih tenang.
“Lombok?”
“Iya. Katanya sih keren. Aku juga belum perah ke sana. Kalo iya, sekalian kita beli dua tiket pergi pulang. Yes?”
Sita tersenyum mengiyakan.
*
Nasi goreng telur mata sapi sudah tandas. Demikian juga dengan roti selai cokelat di piring Sita. Sarapan pagi yang sama seperti biasanya. Yang membuatnya beda, kali ini mereka sudah ada di Mataram.
“Kemana kita pagi ini?” Reny buka suara.
“Aku browsing kapan hari, ada tempat bagus. Namanya taman air Narmada. Katanya sih di Lombok Barat.”
“Lombok Barat? Jauh, dong.”
“Katanya sih cuma sepuluh kilometer dari Mataram.”
“Taman air? Semacam danau gitu?”
“Bukan. Ini kompleks peninggalan kerajaan jaman dulu. Salah satunya, ada kolam air yang konon di percaya airnya bisa menyembuhkan berbagai penyakit jika di minum atau di pakai mencuci muka.”
Reny sibuk dengan laptop. Browsing sana sini tentang taman air Narmada.
“Dan yang lebih keren, konon airnya juga bisa membuat awet muda!”
Reny mengangkat alis.
“Cihuy aja gitu, cuci mukanya nggak lama. Sedetik, dua detik. Tapi bisa awet muda selamanya. Kalau aku awet muda, pasti Donny nyesel udah ninggalin aku demi perempuan itu.”
Reny manggut-manggut. Jadi kesana rupanya arah tujuan percakapan wisata mereka kali ini.
“Ah, ini dia infonya! Taman air Narmada. Sepertinya memang nggak jauh. Bagus juga. Lumayan, sekalian belajar sejarah.”
Sita senyum-senyum. Sepertinya niatnya sudah begitu bulat untuk mencuci muka dengan air di kolam.
“Tapi ada larangan bagi perempuan yang sedang datang bulan. Karena bila di langgar, bisa kesurupan.”
Senyum sumringah di wajah Sita tiba-tiba menghilang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s