Golput

Baru ingat, besok tanggal 11 Juli. Penduduk Jakarta akan memilih gubernur untuk 5 tahun ke depan. Hebohnya sama seperti pemilihan presiden. Secara ini gubernur DKI Jakarta a.k.a ibukota, kan?

Yang namanya sosial media penuh sesak dengan kampanye. Nggak hanya dari tim sukses masing-masing calon, tapi juga simpatisannya. Tidak sedikit juga dari publik figur yang mendukung dengan atau tanpa dibayar. Intinya, selain mengajak untuk memilih calon yang mereka dukung, juga mengajak agar tidak golput.

Bicara tentang golput, saya jadi ingat tentang teori golput yang pernah disinggung mantan dosen saya dulu. Beliau menjelaskan bagaimana golput sejatinya hanya merugikan diri kita. Kok bisa?

Begini cerita beliau. Banyak yang bilang golput itu pilihan. Memang benar. Bisa jadi, pilihan calon yang tersedia tidak ada yang sesuai dengan diri kita. Lalu kita memilih untuk golput, alias abstain, tidak nyoblos ataupun nyontreng. Lalu, dimana ruginya?

Katakanlah ada pemilihan gubernur dengan 4 pilihan pasangan. Dengan pemilih total berjumlah satu juta orang (ini hanya contoh kasus, biar hitungannya gampang sih :)). Satu juta pemilih, semua menggunakan hak pilihnya. Sehingga pada saat penghitungan suara, ke empat pasangan akan mendapatkan suara berdasarkan hasil perhitungan (katakanlah tidak ada penyimpangan penghitungan suara). Prosentasenya di kalikan satu juta pemilih.

Tapi, apa yang terjadi bila ada yang golput? Misal ada seratus ribu pemilih. Berarti, prosentase suara yang didapat oleh masing-masing pasangan adalah hasil setelah dikalikan sembilan ratus ribu pemilih.

Lalu apa artinya? Suara dari pemilih golput bisa jadi lari ke pasangan yang sebenarnya tidak sesuai dengan diri kita. Serius. Bagaimana ceritanya? Semisal pasangan Z tidak sesuai dengan diri kita. Lalu kita memilih pasangan X. Saat penghitungan suara dengan satu juta pemilih, pasangan Z mendapatkan 49% suara, mayoritas dibanding pasangan lain. Tapi belum memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai pemenang, karena belum lebih dari 50%. Artinya, akan diadakan putaran kedua. Yang artinya lagi, masih ada harapan bagi pasangan calon lain yang menempati urutan prosentase kedua terbesar.

Tapi apa jadinya bila ada yang golput? Bisa jadi, setelah dilakukan penghitungan suara dan dicari prosentasenya, pasangan Z langsung mendapatkan prosentase lebih dari 50%, karena dikalikan jumlah pemilih yang ‘hanya’ sembilan ratus ribu. Nah, suara kita lari ke pasangan yang tidak kita sukai, kan?

Ini baru bicara tentang hitung-hitungan matematis murni. Belum kalau ada penyelewengan atau apapun yang mungkin muncul. Tapi tetap saja golput itu pilihan, kan? Apakah kita akan membohongi hati nurani bila ternyata tak ada satupun calon yang pas dihati?

Solusi yang pernah di berikan mantan dosen saya adalah, kalaupun tak ada yang sesuai, jadilah golput yang bertanggungjawab. Bagaimana caranya? Datanglah ke TPS saat pemilu/pemilukada. Tetap lakukan pencoblosan/pencontrengan pada lebih dari satu pasangan. Artinya, suara kita nanti akan dihitung TIDAK SAH, karena mencoblos/mencontreng lebih dari satu calon. Kenapa harus begitu? Agar kertas suara yang menjadi hak kita tidak digunakan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Ini bukan berarti mengajak pemilih untuk golput, yah. Hanya, bertanggungjawab dengan ‘pilihan’ kita saja.

Tapi, sejatinya, sebaik-baiknya golput, memilih pemimpin untuk masa depan sungguh merupakan hak yang luar biasa. Tak semua negara memberikan hak itu pada rakyatnya. Pelajari benar-benar kelebihan dan kekurangan para calon, ikuti perkembangan mereka selama ini. Lalu tentukan pilihan pada saat hari pemilihan. Salah satu bentuk kepedulian kita sebagai warga negara. Termasuk bisa ‘menuntut’ janji, bila ternyata calon yang kita pilih akhirnya menjabat. Kalau kita golput, kita tak punya hak untuk menuntut, kan?

Sekali lagi, ini masalah pilihan. Mau golput atau tidak. Yang terpenting, apapun pilihan kita, lakukan dengan baik dan konsisten.

Selamat mencoblos🙂

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s