Move on

Kalau diperhatikan sungguh-sungguh, di banyak media, baik cetak, elektronik, terutama online (khususnya sosial media), kita akan sering menemukan kalimat ‘Gagal Move On’. Rasanya? Galau maksimal🙂

Kalau difikir, apa yang bisa membuat seseorang gagal move on? Karena mantan begitu berartikah? Kenangan begitu kuatkah? Cinta masih ada walau tinggal sisa-sisa kaisan? Atau apa?

Dari beberapa orang (sedikit sih, sebenarnya…) yang gagal move on dan mau saya tanyai, kesimpulan yang bisa diambil adalah penyebabnya justru karena mereka putus baik-baik. Kalau putus baik-baik, kenapa jadi begini akhirnya?

Menurut mereka, hubungan itu berakhir bukan karena ada masalah antar mereka. Ada yang karena tidak direstui orang tua, ada yang karena kesibukan keduanya, atau karena jarak dan waktu yang memisahkan, dan lain-lain. Which is, pada dasarnya mereka masih saling mencintai.

Nah! Putus baik-baik ini ternyata berdampak buruk. Masih suka ingat mantan, masih saling sapa di socmed, masing stalking timeline/wall mantan, masih suka titip salam ke mantan, masih suka terbayang kenangan bersama, dan banyak lagi. Ujung-ujungnya, begitu ada yang naksir kita, pdkt, gebet-gebet, berakhir dengan gagal total. Masih belum bisa melupakan mantan. Gagal move on, deh😦

Lalu, bagaimana supaya tidak gagal move on? Sebelumnya, maafkan saya yang selama ini dijajah logika. Tapi jujur, itu yang bisa membuat saya bertahan menghadapi masalah selama ini (ecieeeh…). Begini caranya…

Masih ingat mantan dan masih cinta padanya, itu sah-sah aja. Yang perlu jadi introspeksi adalah ada tidaknya kemungkinan untuk balik lagi. Kalau memang ada, kenapa tidak balik lagi? Secara masih sama-sama suka. Kalau memang sudah tidak ada kemungkinan balik (karena orang tua tidak merestui, dia sudah menikah dengan orang lain, beda agama, dan lain-lain), sudahlah, tutup buku! Ubah mind set: Dia bukan milikku lagi dan tidak akan pernah jadi milikku. Tentukan masa ‘berkabung’. Sehari, tiga hari, seminggu, atau beberapa minggu, terserah. Berdukalah selama masa berkabung. Nangis, galau, curhat, nyampah di socmed, atau apapun. Tapi konsisten dan taati masa berkabung yang sudah kita buat sendiri. Begitu masa berkabung habis, kembalilah ke dunia nyata. Menutup pintu untuk sang mantan, menyingkirkan barang-barang yang sekiranya bisa membuat galau, menekuni hobi baru atau mencoba hal-hal yang belum pernah dilakukan, dan banyak lagi. Kenangan tentu saja sulit dihilangkan, kalau tidak bisa dibilang mustahil. Tak apa, itu bagian dari sejarah hidup kita. Suatu saat nanti, kita akan tersenyum bahkan tertawa saat mengenangnya.

Tapi di sisi lain, ada juga yang gagal move on karena tidak putus baik-baik. How come? Putus karena pertengkaran, karena ada yang selingkuh, karena kekerasan (entah fisik, verbal atau psikis), bisa bikin gagal move on? Oh come on, dear. Itu nggak sepadan! Dia bahkan tak layak mendapat setitik sel di short term memory dalam otakmu. Tak layak mendapat setetes air mata pedihmu. Tak layak dibandingkan dengan calon pendampingmu di masa yang akan datang. Bukan alasan yang layak untuk gagal move on. Bukan berarti kita lalu berusaha secepatnya mendapatkan pengganti agar bisa cepat melupakan kesedihan kita. Itu sama saja berarti kita sudah berlaku tidak adil pada pendamping selanjutnya. Move on tak selalu berarti mendapat pendamping baru. Move on berarti kita kembali melanjutkan hidup. Tidak lalu berhenti meratapi nasib. Melangkah satu demi satu. Membuka diri untuk banyak kemungkinan. Karir, pendidikan, dan juga pendamping.

Bagaimana? Sudah bisa move on?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s