Ikhlas

Jujur, beberapa hari ini saya terbayang blog milik Christian Pramudia tentang ‘Saling Memberi itu Sakit’. Posting beberapa minggu lalu sebenarnya. Hanya banyak momen yang menjadi trigger yang mengingatkan saya akan posting yang satu ini. Beruntungnya saya mendapat ijin untuk reblog di ‘rumah’ saya. Thank you, Cis🙂

Teman bilang, ikhlas memberi itu butuh proses. Saya setuju. Pertanyaannya, seberapa lama dan panjang proses itu?

“Tergantung kedewasaan seseorang. Dewasa lho ya, bukan tua.”

“O ya?”

Yes. Semakin dewasa seseorang, semakin cepat proses ikhlas itu.”

Saya berkerut kening. Padahal menjadi dewasa juga butuh proses, kan? Semacam lingkaran yang tidak ada ujung pangkalnya.

“Yang pasti, tidak bisa dipersingkat. Apalagi dibuat menjadi instan. Masing-masing orang beda prosesnya.”

Saya hanya manggut-manggut.

“Katakan untuk kasus memberi. Waktu kecil, kita diajarkan untuk berbagi. Berbagi permen, misalnya. Dengan saudara atau dengan teman. Sedikit lebih besar, kita dikenalkan pada konsep memberi yang ‘lebih tinggi’. Pada orang yang kesusahan, yatim piatu, kaum dhuafa, dan lain-lain. Seperti itu. Tingkat keikhlasannya beda, kan?”

“Tapi kenapa muncul pamrih?”

“Karena kita manusia. Pamrih itu manusiawi. ‘Dia udah bolak-balik ditolongin. Giliran gue minta tolong, malah nggak ditolongin’. Lah, berarti yang kemarin-kemarin nggak ikhlas dong nolongnya?”

Saya diam.

“Padahal, kalo kita ikhlas menolong atau memberi, ketika suatu saat kita membutuhkan, pertolongan itu bisa datang dari mana saja, yang kadang tak bisa kita duga. Ini beneran!”

Saya mengangguk. Jujur, pernah mengalaminya sendiri.

“Terus, bagaimana menghilangkan pamrih?”

“Sulit.”

Saya angkat alis.

“Tapi bukan berarti mustahil. Kikis sedikit demi sedikit. Sama seperti kita memupuk ikhlas sedikit demi sedikit. Satu sisi semakin sedikit, sisi yang lain semakin banyak. Mencoba ‘melupakan’ setiap kali kita memberi, apapun bentuknya. Jangan berpikir tentang balasan atau pamrih. Lama-lama jadi kebiasaan. Coba saja.”

Saya diam.

“Udah, coba aja. Sama-sama belajar ikhlas…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s