Maaf

Orang bilang meminta maaf itu sulit. O ya? Bukan bermaksud skeptis. Hanya, beberapa minggu ini dan sampai sebulan yang akan datang, kata ‘maaf’ akan sering terdengar dan terbaca.

Menjelang puasa hingga setelah lebaran, kita akan sering mendengar orang meminta maaf, pun memaafkan. Apalagi di jaman piranti canggih seperti sekarang. Seperti sudah ada tombol maaf di keyboard/keypad. Sangat dimudahkan.

Tapi entah kenapa, maaf jadi seperti kehilangan makna. Buat saya, sih. Terasa hanya seperti trend. Mumpung mau puasa. Mumpung sedang lebaran. Maaf pun bertebaran. Hanya sebatas bibir, gigi dan lidah. Hati orang siapa yang tahu.

Bukan ingin sok bijaksana. Maaf itu sifatnya pribadi. Intim. Antara saya dengan anda. Saya dengan dia. Dengan si A. Si B. Si X. Si Z. Kesalahan yang kita buat, disengaja maupun tidak, berbeda pada setiap orang. Minta maaf pada si A karena sering merepotkan nebeng ke kantor setiap hari. Minta maaf pada si B karena sudah menghilangkan bukunya. Minta maaf pada si X karena sudah merebut kekasihnya. Dan banyak contoh yang lain.

Saya pribadi lebih suka menyampaikan permintaan maaf secara pribadi dan orang per orang. Kalau tak bisa bertemu raga, bisa mengirim pesan via apapun. Merangkai kata-kata yang berbeda. Meminta maaf sekaligus mengasah kreativitas. Walau tak diketahui orang banyak, tapi saya yakin permintaan maaf ini akan sampai di hati. Karena permintaan maaf ini juga berasal dari hati.

Wanna try?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s