(tidak) Jujur

Sebenarnya, saya sudah pernah ‘ngomel’ tentang hal ini. Tapi, ternyata perkembangannya semakin tak karuan. Jadi saya putuskan untuk ‘ngomel’ lagi.

Ini tentang kelakuan para sopir angkot. Bukan hobi nyetir ugal-ugalan, ngetem lama, rebutan penumpang, atau yang sejenis. Tapi kebiasaan mereka berbohong.

Bohong? Iya. Walau, mereka tidak mengaku kalau yang dilakukan masuk kategori berbohong😦

Kadang, ada calon penumpang yang akan menuju suatu tempat, tapi tidak tahu harus naik angkot yang mana. Otomatis dia tanya, dong. Dan yang ditanya adalah sopir angkot yang sedang melintas.

“Pak, lewat sana nggak?”

“Lewat. Ayo naik.”

Padahal, angkot ini jelas-jelas tidak lewat tempat yang dituju si penumpang. Lho! Terus? Ditengah perjalanan, nantinya si penumpang akan diturunkan dan dioper ke angkot lain yang jalusnya melewati tempat yang dituju.

Lalu masalahnya dimana? Masalahnya, ketika si penumpang bertanya, sebenarnya ada angkot yang trayeknya melalui tempat yang dituju. Nah, lalu kenapa si sopir angkot berbohong?

“Kalo nggak gini, nggak dapet penumpang.”

“…..”

Oke, saya tahu angkot sekarang sepi penumpang. Sejak sepeda motor bisa dikredit dengan uang muka dan cicilan yang ramah kantong, berbondong-bondong orang pindah ke lain hati. Jadilah angkot merana. Hanya dikejar penumpang saat jam berangkat dan pulang kantor atau sekolah.

“Kalo nggak gini, nggak dapet rejeki.”

Rejeki? Dengan berbohong? Dengan menipu? Apa bedanya dengan yang menipu milyaran rupiah? Demi uang yang tidak lebih dari lima ribu rupiah, menghalalkan segala cara termasuk menipu.

Ujung-ujungnya, penumpang jadi kehilangan kepercayaan. Menganggap semua sopir angkot sama saja. Padahal belum tentu. Kalau sampai para penumpang pindah ke moda transportasi umum yang lain, bisa-bisa angkot hanya bisa ditemui di museum transportasi.

Saya paham kesulitan mereka. Tapi bukan berarti karena mengkais rejeki lalu mencari pembenaran atas tindakan mereka, kan? Dan rejeki yang didapat dari hasil menipu tidak mendatangkan berkah. Well, jadi panjang sampai akherat urusannya.

Just be honest, please. Kalau memang tidak, jawab tidak. Kalau tidak tahu, jawab tidak tahu. Rejeki sudah diatur. Tinggal manusianya yang harus bekerja keras dengan jujur.

2 thoughts on “(tidak) Jujur

  1. Rezeki itu sudah diatur sedemikian rupa, tinggal kita saja yang berikhtiar mendapatkannya.

    Betul Mbak, harus tetap berlaku jujur.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s