Kertas

Katanya buku jendela dunia. Saya akui itu. Dengan buku, tanpa perlu pergi kemanapun, saya bisa tahu banyak hal. Terlepas dari internet, tentu saja. Namun, buku punya sisi yang menyakitkan buat saya. Menyakitkan? Iya. Ini baru saya ketahui beberapa bulan lalu.

Saya penggemar buku, jauh sebelum bisa membaca. Melihat gambar-gambar di dalamnya, dibacakan, hingga bisa membaca sendiri. Dulu, semua mengingatkan saya untuk membaca dengan jarak yang aman minimal 30 cm plus dengan pencahayaan yang cukup terang. Saya turuti. Tak ada masalah. Hingga setahun kemarin, mata saya agak bermasalah.

Awalnya, hanya terpikir kalau minus mata saya muncul lagi, setelah sembuh belasan tahun lalu. Tapi, kenapa keluhannya berbeda? Bukan pandangan yang menjadi kabur, tapi saya menjadi sensitif terhadap intensitas cahaya yang mungkin termasuk biasa saja kadarnya. Ada apa ini?

Karena dirasa semakin mengganggu, saya pergi memeriksakan diri ke dokter mata. Dan, penjelasan dokter sukses membuat saya bengong. Ini penyakit para kutu buku!

JRENG!

Mata saya jadi sensitif terhadap cahaya karena terlalu sering membaca. How come? Padahal saya selalu membaca dengan pencahayaan ruang yang baik. Ternyata, semua berawal dari pentulan cahaya oleh kertas yang kemudian masuk ke mata. Selama ini, mayoritas buku yang beredar di pasaran menggunakan kertas HVS yang putih bersih. Kertas jenis inilah yang ‘berbahaya’ bagi mata untuk jangka panjang. Cahaya yang sedianya masih aman, bila dipantulkan oleh kertas jenis ini, akan menjadi cahaya yang merusak mata. Tidak terasa dalam jangka waktu yang pendek. Namun, akumulasinya akan menyebabkan mata menjadi sensitif. Itu yang terjadi pada saya sekarang.

Lalu, bagaimana cara menyembuhkannya? Tidak ada caranya. Nah! Lalu? Hanya bisa dikurangi intensitas kesensitifannya. Bagaimana caranya? Dengan membatasi membaca dari buku yang menggunakan kertas HVS. Sekarang, banyak buku yang menggunakan jenis kertas novel yang agak redup kekuningan. Jenis ini masuk dalam kategori aman bagi mata.

Selain itu, kurangi kegiatan yang ‘memaksa’ mata harus berhadapan dengan cahaya secara langsung. Seperti terlalu lama menghadap layar monitor atau televisi. Belakangan, saya juga membatasi mengemudi kendaraan di malam hari. Cahaya lampu dari kendaraan lain yang datang berlawanan arah sungguh menyiksa. Tentu saja, tetap mengkonsumsi makanan yang berguna bagi mata plus istirahat yang cukup.

Sayangnya, saya lupa meminta jurnal penelitian tentang jenis kertas yang berbahaya bagi mata pada dokter. Tak apa, semoga cerita saya ini bisa diambil hikmahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s