Kepo

“Batas antara perhatian dan ikut campur itu tipis banget,” ujar seorang teman.

Saya setuju. Apalagi di Indonesia dengan budaya Timur yang kental, dimana ‘care’ bisa punya banyak konotasi.

“Itu kenapa muncul istilah ‘kepo’. Susah dicari kosakata bakunya,” cengirnya.

Saya ikut tersenyum. Kepo bisa dibilang ada di twilight zone. Antara memberi perhatian dan agak ikut campur urusan orang lain, bahkan orang yang sama sekali tidak dikenal.

“Kenapa konotasinya negatif?”

“Enggak juga. Banyak yang positif. Cuma yang negatif sepertinya lebih terekspose dan cenderung bombastis.”

“O ya?”

“Iya. Kalau di sosial media, sering kita baca orang-orang yang meretweet atau meneruskan info seseorang yang membutuhkan pasokan darah segera. Atau kasus orang hilang. Atau info terkini tentang bencana alam. Apa bukan kepo namanya?”

Saya mengiyakan.

“Cuma…kasus-kasus negatif cenderung lebih menarik karena bombastis tadi.”

“Tapi nggak bisa disalahkan juga, kan?”

“Iya, sih. Terlepas itu negatif, tetap ada hal yang bisa diambil. Nggak perlu ‘terjun’ dalam kasus. Stalking aja. Dari masalah yang muncul, bisa diambil hikmah. Jadi nggak sampai terjadi lagi.”

Saya manggut-manggut.

“Sebenarnya cuma masalah pilihan, kok. Mau ikut kepo yang mana. Tapi kadang kepo berita-berita selebritis boleh juga. Biar gaul, gitu…”

“…..”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s