Buka Puasa

Ada apa di meja ketika adzan maghrib berkumandang? Kurma? Teh manis hangat? Kolak? Kue-kue manis aneka rupa? Makanan berat penghilang lapar? Atau hanya air putih pembatal puasa?

Terlepas dari sunnah Rasul tentang tiga biji kurma sebagai hidangan berbuka puasa, kini alternatif hidangan sudah tak terhingga variasinya. Dari yang murah sampai yang tak terjangkau kantong kita. Bahkan, beberapa tempat sudah memproklamirkan diri sebagai sentra tempat perdagangan makanan untuk berbuka puasa. Sekali lagi, kecerdasan membaca peluang.

Namun, banyak yang jadi lupa esensi berpuasa. Saya tidak akan sok berkata ala ustadzah. Tapi bukannya puasa adalah momen latihan melawan hawa nafsu? Lalu, bila berbagai makanan dan minuman membanjiri meja makan setiap buka puasa, bisa disebut sukseskah puasa kita? Hanya menahan lapar dan haus di siang hari lalu membalaskan dendamnya di waktu maghrib? Hanya dengan mengucapkan ‘Alhamdulillah’ setelah puasa batal, tak serta merta ‘menghalalkan’ dendammu.

Kalau memang bulan Ramadhan bisa jadi ajang introspeksi dan memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik, kenapa tidak dimulai dari menu buka puasa kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s