Respect

“Beda respect dengan menjilat itu tipis. Tapi bisa dirasakan, walau relatif.”

Kalimat meluncur dari seorang teman.

“Ayolah. Nggak Barat, nggak Timur. Menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda itu lumrah. Itu bentuk respect. Tapi, kalau berlebihan, jatuhnya jadi terasa seperti sedang menjilat.”

Sepakat. Tapi tetap saja, ujung-ujungnya relatif.

“Kalo itu soal skill khusus. Harus diasah. Sama seperti berempati. Lama-lama kita akan tahu kadar respect yang seharusnya.”

Kami masih mendengarkan.

“Contohlah kita berhadapan dengan atasan yang juga lebih tua. Bertingkah laku dan bicara sopan, mendengarkan dengan perhatian, memberi senyum secukupnya, rasanya sudah pas. Tak perlu sampai membungkuk-bungkuk, tertawa palsu, senyum berlebihan yang dipaksakan, atau menyetujui setiap kalimat yang diucapkan. Itu contoh ekstrimnya sih…”

Satu-satu tersenyum.

“Terasa jengah kalau berlebihan, kan? Secukupnya saja. Kecuali…”

“Kecuali, apa?”

“Kecuali memang sama-sama suka menjilat dan dijilat 🙂 “

Iklan

Sehat selalu :)

Saya ke rumah sakit beberapa hari yang lalu untuk sebuah kebutuhan. Dan, bertemu seorang teman lama di deretan kursi pasien yang menunggu giliran masuk ke ruang dokter adalah kejutan tersendiri. Ngobrol sana sini, tahulah saya pada akhirnya bahwa dia mengantarkan isteri yang harus kontrol rutin karena sakit.

Kanker payudara. Stadium 2B.

Hati saya seperti diiris-iris.

Bukan yang pertama kali. Karena yang sebelumnya sudah ‘mengorbankan’ payudara sebelah kiri untuk diangkat. Setelah beberapa tahun, sel kanker muncul kembali dan menyerang yang kanan.

“Mungkin agak abai, ya. Karena tidak ada riwayat kanker apapun di keluarga dia. Jadi berfikir kalau tidak mungkin kena kanker.”

Saya manggut-manggut. Pernah suatu kali saya baca sebuah jurnal penelitian kesehatan yang menyebutkan bahwa saat ini mayoritas penderita kanker tidak punya riwayat kanker dalam keluarganya. Lalu, dari mana asalnya? Ternyata gaya hidup, polusi, stress jadi penyebab utama. Konsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat, jarang berolahraga, merokok, beban pekerjaan, beban hidup dan lain-lain sudah jadi pemicu utama.

Dan sang isteri tiba-tiba keluar dari ruang dokter. Perempuan mungil yang ayu. Berusaha keras agar tak terlihat sedih dihadapannya, sang teman mengenalkannya pada saya. Pun saya berusaha melakukan hal yang sama. Seorang perempuan kuat. Seorang isteri dan ibu dua orang anak, yang berjuang melawan penyakitnya. Dia bukan satu-satunya orang yang mengalami hal ini. Tapi, cukup satu orang saja untuk menyadarkan banyak pihak untuk hidup lebih sehat. Lahir dan batin.

Harapan

Harapan.

Orang bilang, harapan itu ada kalau kita punya mimpi. Akan apapun. Punya cita-cita tinggi. Punya karir cemerlang. Punya rumah dan kendaraan yang bagus. Banyak hal.

Tapi, bagaimana caranya harapan itu bisa terwujud? Tanpa berniat menjatuhkan semangat, deretan kendala akan muncul dengan nyatanya di depan mata. Dari yang ringan, sampai yang mampu membuat kita mengibarkan bendera putih.

Sejak awal tahun, saya bertemu dengan orang-orang yang punya harapan dan mimpi besar dalam hidupnya. Senang mengetahuinya. Dan, ketika setengah tahun berlalu, saya kembali bertemu dengan mereka. Ada yang masih berjuang mewujudkan. Bahkan ada yang telah berhasil dan kembali membuat harapan dan mimpi baru. Tapi tak sedikit yang sudah menyerah. Dan yang sungguh disayangkan, mereka menyerah oleh kendala yang bisa dibilang sepele. Sayang sekali.

Punya harapan itu seperti menanam benih pohon. Tak hanya sebatas menanam. Tapi juga merawat. Diberi pupuk dan di siram air. Disiangi dari tanaman pengganggu. Dijauhkan dari hama. Sampai tanaman itu tumbuh sehat, besar dan berbuah banyak.

Masalahnya adalah setekun apa kita merawat pohon harapan kita?

Toko Buku

Audzubillahiminasyaitonirojim…”

Kalimat pengusir setan itu biasa saya dan beberapa teman ucapkan sebelum masuk ke toko buku. Kenapa? Di toko buku banyak godaan. Niat beli satu buku, begitu sampai rumah kantong belanja sudah berat untuk di tenteng.

Saya suka ke toko buku. Lebih spesifik, mungkin yang tidak terlalu besar atau terlalu kekinian. Yang kecil tapi homey. Mirip-mirip toko ‘The Shop Around The Corner’, punya Kathleen Kelly di You’ve Got Mail. Seperti berada di rumah. Baik owner, pegawai dan pengunjung sudah seperti keluarga sendiri. Oh ya, satu lagi. Sebisa mungkin ada coffee corner disana 🙂

Masalahnya, saya suka lupa diri. Berangkat dengan niat dan daftar buku yang akan di beli. Sesampai di rumah, daftar tinggallah daftar. Entah setan mana yang berhasil merayu saya mengambil buku-buku yang tidak masuk dalam daftar.

Tapi, setiap masalah harus di cari solusinya. Dan solusi dari masalah saya adalah, saya tidak membawa uang berlebih ketika pergi ke toko buku. Pun meninggalkan semua kartu yang bisa di gesek untuk mengganti pembayaran tunai. Bawa uang secukupnya saja. Dan sejauh ini cukup berhasil.

Cukup? Ya, karena saya pernah gagal dengan cara ini. Bagaimana ceritanya bisa gagal, mengingat saya tidak membawa uang lebih? Semua hanya karena saya tidak pergi sendiri, tapi bersama teman.

Dan saya meminjam uang darinya 🙂

Forest

Sebagian masa kecil saya dihabiskan di Sumatera. Saat liburan, bapak rajin membawa keluarganya menjelajahi tempat baru di pulau swarna dwipa. Baik jalan darat, laut, juga udara. Yang menarik, bapak tidak pernah mau melanjutkan perjalanan jika matahari sudah tenggelam. Hanya beliau lakukan jika kami sudah ada di suatu kota, desa atau tempat kami memutuskan bermalam.

Belakangan, saya baru tahu beliau melakukannya karena menyusuri jalan darat di waktu malam sangat berbahaya. Jalan propinsi disana (saat itu) menembus hutan-hutan yang rimbun dan pekat. Sedemikian lebatnya, ada tempat-tempat yang tak pernah terjamah sinar matahari, walau saat siang hari. Dan ketika malam menjelang, entah binatang apa yang akan melintas di jalan tanpa bisa kita hindari. Belum kalau kendaraan mengalami kendala. Membayangkannya saja saya tidak berani.

Sedikit lebih besar, kami kembali ke pulau Jawa. Yang tak pernah saya lupakan adalah ketika seorang sepupu menasihati kami untuk berhati-hati melewati alas roban, salah satu hutan yang ada di Utara Jawa, dalam perjalanan mudik lebaran. Baiklah, kami ekstra hati-hati ketika akan memasuki kawasan alas roban.

Apa yang terjadi? Dari masuk hingga keluar, kami bingung. Hutannya yang mana? Memang kami menemukan banyak jejeran pohon tinggi menjulang. Tapi hutannya yang mana?

Sesampai di tempat tujuan, perdebatan dengan sepupu sempat terjadi. Dan berakahir dengan kejelasan bahwa deretan pohon tinggi yang kami temui di perjalanan tadi adalah alas roban, hutan yang di maksud. Bukan bermaksud menghina atau melecehkan dan sejenisnya. Hanya kami kira yang ditemui tadi semacam kebun raya. Karena, selama ini, hutan yang ada di benak kami adalah hutan seperti di pulau Sumatera yang lebat, rimbun dan pekat.

Semakin kesini, keprihatinan semakin menjadi. Hutan berkurang. Pohon di tebang. Berganti perkebunan. Aneka satwa penghuni hutan merambah perkampungan. Sebagian yang lain di bantai karena dianggap sebagai hama. Entah apa lagi yang akan terjadi.

Dan, headline koran beberapa hari yang lalu, tentang banjir banding di Sulawesi Tengah membuat hati saya mencelos. Foto perkampungan yang dilibas habis oleh balok kayu yang terbawa arus deras, bukti nyata penggundulan hutan. Ini bukan yang pertama terjadi. Dan saya yakin, bukan pula yang terakhir. Tapi sampai kapan?

Saya hanya ingin generasi setelah saya masih bisa menikmati apa yang saya rasakan dulu. Berkendara di tengah hutan rimbun, dan bukan hanya sebatas di kebun raya.

Pengalaman yang tak tergantikan.

Dear editor…

Beberapa tahun lalu, saya bertemu dengan seorang editor di sebuah cafe. Kami dikenalkan oleh seorang teman. Dari perbincangan kami bertiga, akhirnya diketahui bahwa sang editor (yang masih tergolong muda) ini sedang cuti.

“Editor kalo ngajuin cuti itu harus setahun sebelumnya,” candanya.

Yah, kami maklum. Untuk ukuran penerbit sebesar tempatnya berkarir, jabatan editor bisa dibilang jabatan 24 jam. Belum lagi kalau naskah yang masuk tak terhitung jari tangan dan kaki.

“Beruntung sekarang semua naskah yang masuk dalam bentuk soft copy. Dulu, naskah masuk bentuknya hard copy. Penuh deh meja.”

Kami senyum-senyum.

“Tapi bukan berarti tanpa masalah. Kadang naskah yang masuk tidak sesuai dengan ketentuan yang di minta penerbit. Kami minta nggak aneh-aneh kok. Seperti minimal jumlah halaman, ukuran kertas dan margin, format penyimpanan file, file di kirim via email by attachment bukan di badan email, bio penulis, dan lain-lain. Biasanya kalau tidak sesuai ketentuan, naskah ‘dikirim’ balik ke penulis dengan catatan tidak sesuai ketentuan. Itu masih lumayan. Kalau lagi bete, kadang juga langsung di hapus.”

Glek!

“Mau di bilang kejam, ya memang sih. Tapi mau gimana lagi. Untuk hal yang sifatnya teknis aja sudah susah untuk dipenuhi. Gimana kita dari penerbit mau baca. Take and give lah…”

Benar juga sih…

“Dulu, jaman jadi juri lomba tulis juga gitu. Kalau tidak sesuai ketentuan, langsung gugur tanpa di baca. Mau di bilang kejam, terserahlah.”

Kami mendengarkan.

“Apalah artinya cerita yang bagus dan menarik, kalau harus gugur gara-gara hal sepele. Apa susahnya, sih?”

Saya mencatat kalimatnya. Di benak.

i

Perasaan, saya sudah bolak balik nonton animasi the incredibles. Tapi entah kenapa, masih selalu suka. Cerita tentang satu keluarga yang semua anggotanya punya kekuatan super. Bisa jadi yang membuat saya suka adalah, walaupun berstatus superhero, sisi manusianya masih suka muncul.

Si ayah yang ‘galau’ karena merasa tak berguna. Si ibu yang protektif pada anak-anaknya. Gadis ABG yang mulai naksir cowok. Si anak lelaki yang berseteru dengan teman sebaya. Hingga si bayi yang layaknya bayi pada umumnya. Manusiawi.

Bisa jadi semua superhero yang ada juga dimunculkan sisi manusianya. Hanya bedanya, the incredibles ini satu keluarga utuh, dengan segala permasalahan dan kompleksitasnya. Walau dibuat dalam bentuk animasi, tapi tak mengurangi nilai-nilai yang bisa diserap, oleh segala umur.

Dan yang membuat penasaran sebenarnya adalah akankah kira-kira the incredibles ini dibuat versi non animasinya?