Bahagia itu …

Ketika kita tertawa bersama orang tua dan keluarga. Di tempat lain ada yang begitu rindu pada orang tua yang telah berpulang. Juga anak yang tak pernah mengenal siapa orang tua dan keluarganya.

Ketika mengigit batang tebu dan menyesap airnya di bawah rindang pohon di siang yang terik. Di tempat lain ada orang yang hanya bisa mengira-ira rasa nikmatnya hanya karena berwariskan diabetes melitus dari para leluhur.

Ketika menatap indahnya pelangi di langit biru. Sedang seseorang di tempat yang lain hanya berteman gelap sejak hayat di kandung badan.

Ketika peluh mengucur badan, saat berkejaran dengan si kecil yang sedang aktif. Dan di tempat lain banyak pasangan yang terhitung tahun menunggu hadirnya sang buah hati.

Ketika menikmati rinai hujan di teras rumah. Di tempat lain, ada yang kebingungan mencari tempat untuk berteduh, karena ‘rumah’ tak terjangkau oleh kantong mereka.

Ketika senyum mengembang menatap nilai bagus di lembar kertas ulangan. Di tempat lain ada anak yang menyamakan sekolah dengan barang mewah.

Ketika bersendawa seusai menyantap porsi makan minimal tiga kali sehari. Di tempat lain masih ada yang belum tentu sudah makan hari ini.

Ketika menghirup udara bersih di pagi dini hari. Di tempat lain, ada anak-anak yang harus rela menghirup asap knalpot di perempatan jalan sepanjang waktu.

Bahagia bisa sederhana, pun sebaliknya. Bisa jadi hidupmu adalah impian banyak orang. Masih berani mengeluh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s