Parcel

Tanya, nih! Menerima kiriman parcel waktu hari raya masih dilarang? Sempat kepikiran, kasihan para pebisnis parcel. Itu kan ladang rejeki mereka.

Konon, awalnya bisnis ini dimulai untuk memberikan ucapan hari raya antar para pebisnis. Kalau hanya berkirim kartu ucapan, sepertinya terlalu jamak. Kalau parcel, agak terasa beda. Lebih istimewa, gitu🙂

Perkembangan selanjutnya, parcel ini tidak hanya dikirim ke kolega bisnis, tapi juga pada para pejabat yang berwenang. Siapapun dan apapun jabatannya. Ujung-ujungnya, demi melanggengkan bisnis juga. Bisik-bisiknya, biar bisnisnya ‘aman’. Benar atau tidaknya, hanya Tuhan dan yang bersangkutan yang tahu.

Parcel dengan ‘niat’ seperti ini yang pada akhirnya dilarang. Lebih pada para pejabat yang tidak boleh menerima parcel. Sedang parcelnya sendiri dalam bentuk fisik, monggo beredar kemana saja. Bahkan, trend yang kemudian marak adalah parcel yang dikirim untuk panti-panti asuhan, atau dalam bentuk bingkisan bagi kaum yang kekurangan. Tepat sasaran!

Saya sendiri? Beberapa parcel pernah teralamat ke rumah. Hanya saja kenapa tidak satupun yang mengirim parcel berisi buku-buku, yah? Ada yang mau mengirimkannya pada saya tahun ini, mungkin? Anyone?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s