Sudah, belum?

17 Agustus sering jadi momen beredarnya pertanyaan bagi generasi sekarang. Apa yang sudah kalian lakukan untuk negeri ini? Sudahkan kalian melakukan sesuatu yang berguna bagi Indonesia? Apa yang telah kalian lakukan untuk mengharumkan nama Indonesia? Dan masih banyak pertanyaan sejenis.

Tapi, beberapa tahun lalu, saya dan sejumlah teman mendapatkan momen yang berbeda, tapi justru mengharukan. Kami bertemu dengan seorang bapak sepuh di sebuah halte bis tak jauh dari gedung negara. Beliau berpakaian seragam veteran, lengkap dengan tanda jasanya. Berpegangan pada tongkat kaki tiga, dengan tangan gemetar karena tremor.

“Nunggu cucu. Dia mau jemput saya disini,” ujarnya ketika kami tanya.

Kami lalu terlibat perbincangan hangat dengan beliau yang baru pulang mengikuti upacara 17 Agustus. Yang membuat kami tertarik, alih-alih bosan, adalah cerita beliau tentang jaman perjuangan dulu, bergulir tanpa menjadi terkesan menggurui. Hingga tiba-tiba beliau berkata tentang sesuatu yang membuat kami terdiam.

“Kalian sadar tidak, kalau sebenarnya perjuangan kalian sekarang lebih berat daripada perjuangan saya dulu?”

Kami, para muda ini hanya saling tatap lalu menggeleng.

“Dulu, jaman saya berjuang, musuh kami jelas. Penjajah, entah Belanda, Jepang, atau bangsa sendiri yang berkhianat. Musuh yang kalian hadapi sekarang lebih berat. Ada narkoba, korupsi, degadrasi moral, pornografi, entah apa lagi. Terlalu banyak. Dan semua itu tidak ada bentuk fisiknya. Belum lagi kalau yang kalian hadapi adalah saudara atau teman sendiri. Itu berat sekali.”

Kami terdiam. Benar-benar terdiam.

“Kalau saya boleh pesan, kalian jadi orang yang kuat, ya. Agama, ideologi, semuanya. Saya yakin soal pendidikan, kalian lebih berilmu dari saya. Terserah, kemerdekaan ini akan diisi apapun asal positif. Musuh yang kalian hadapi, jauh lebih berat. Jadi, hati-hati.”

Beliau tersenyum. Kami masih tak tahu harus bicara apa. Hingga sebuah sepeda motor bebek tahun 90-an berhenti dihadapan kami. Seorang laki-laki berusia 30-an mengangsurkan helm pada bapak sepuh. Tak lama, beliau sudah duduk nyaman diboncengannya.

Kami mengiringi kepergiannya dengan salam. Sosok yang tidak kami kenal personal, tapi sangat membekas sampai kini. Terima kasih, bapak…sudah mengingatkan akan musuh besar yang bahkan tidak kami sadari selama ini.

4 thoughts on “Sudah, belum?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s