(tanpa) Ketupat?

Orang bilang lebaran itu identik dengan ketupat dan opor ayam. Itu baru afdol🙂 Tapi, tidak di lingkungan rumah saya. Kenapa? Di Jawa Timur, umumnya ketupat dan opor baru muncul setelah H+7 lebaran. Istilahnya, ‘Kupatan’.

Saya bukan asli orang Jawa Timur. Orang tua berasal dari Jawa Tengah. Tapi sebagian besar hidup saya ada di Timur pulau Jawa ini. Dan dimana bumi dipijak, disitu langit di junjung. Enak juga ikut tradisi kupatan. Jadi, saat hari Idul Fitri, kami hanya bertemu kue dan cookies setelah sholat Ied. Mungkin juga makanan besar, selain ketupat dan opor ayam. Baru, seminggu setelahnya, kami bertemu ‘dua sejoli’ yang muncul setahun sekali ini🙂.

Saya terbiasa membeli janur, alih-alih selongsong ketupat yang sudah jadi dan tinggal isi. Kenapa? Hanya berusaha mengingat kembali, bagaimana cara membuat ketupat. Semakin bertambah umur, semakin lama mengingat-ingat cara membuatnya🙂 Kadang, bentuk ketupat yang sudah berhasil dibuat, justru terlihat berbeda, kalau tidak bisa dibilang ‘aneh’. Belakangan saya baru tahu, kalau ternyata bentuk ketupat ada sepuluh macam. Tidak hanya berbentuk belah ketupat seperti yang sering kita jumpai.

Well, terlepas dari kapan kita bertemu ketupat dan opor, atau bahkan tidak bertemu sekalipun, jangan sampai mengubah esensi lebaran. Ketupat bisa masuk dalam kategori budaya. Tanpanya, Idul Fitri tetap bisa berlangsung. Hanya, budaya ini yang ‘meluweskan’ hubungan antar manusia di suatu tempat. Jalani saja, tanpa harus merasa terpaksa. Toh, tak kan ada ruginya.

By the way, ada yang mau mengirim ketupat dan opor ayam buat saya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s