Forest

Sebagian masa kecil saya dihabiskan di Sumatera. Saat liburan, bapak rajin membawa keluarganya menjelajahi tempat baru di pulau swarna dwipa. Baik jalan darat, laut, juga udara. Yang menarik, bapak tidak pernah mau melanjutkan perjalanan jika matahari sudah tenggelam. Hanya beliau lakukan jika kami sudah ada di suatu kota, desa atau tempat kami memutuskan bermalam.

Belakangan, saya baru tahu beliau melakukannya karena menyusuri jalan darat di waktu malam sangat berbahaya. Jalan propinsi disana (saat itu) menembus hutan-hutan yang rimbun dan pekat. Sedemikian lebatnya, ada tempat-tempat yang tak pernah terjamah sinar matahari, walau saat siang hari. Dan ketika malam menjelang, entah binatang apa yang akan melintas di jalan tanpa bisa kita hindari. Belum kalau kendaraan mengalami kendala. Membayangkannya saja saya tidak berani.

Sedikit lebih besar, kami kembali ke pulau Jawa. Yang tak pernah saya lupakan adalah ketika seorang sepupu menasihati kami untuk berhati-hati melewati alas roban, salah satu hutan yang ada di Utara Jawa, dalam perjalanan mudik lebaran. Baiklah, kami ekstra hati-hati ketika akan memasuki kawasan alas roban.

Apa yang terjadi? Dari masuk hingga keluar, kami bingung. Hutannya yang mana? Memang kami menemukan banyak jejeran pohon tinggi menjulang. Tapi hutannya yang mana?

Sesampai di tempat tujuan, perdebatan dengan sepupu sempat terjadi. Dan berakahir dengan kejelasan bahwa deretan pohon tinggi yang kami temui di perjalanan tadi adalah alas roban, hutan yang di maksud. Bukan bermaksud menghina atau melecehkan dan sejenisnya. Hanya kami kira yang ditemui tadi semacam kebun raya. Karena, selama ini, hutan yang ada di benak kami adalah hutan seperti di pulau Sumatera yang lebat, rimbun dan pekat.

Semakin kesini, keprihatinan semakin menjadi. Hutan berkurang. Pohon di tebang. Berganti perkebunan. Aneka satwa penghuni hutan merambah perkampungan. Sebagian yang lain di bantai karena dianggap sebagai hama. Entah apa lagi yang akan terjadi.

Dan, headline koran beberapa hari yang lalu, tentang banjir banding di Sulawesi Tengah membuat hati saya mencelos. Foto perkampungan yang dilibas habis oleh balok kayu yang terbawa arus deras, bukti nyata penggundulan hutan. Ini bukan yang pertama terjadi. Dan saya yakin, bukan pula yang terakhir. Tapi sampai kapan?

Saya hanya ingin generasi setelah saya masih bisa menikmati apa yang saya rasakan dulu. Berkendara di tengah hutan rimbun, dan bukan hanya sebatas di kebun raya.

Pengalaman yang tak tergantikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s