Aku masih di sini..

weheartit

Aku masih di sini. Menunggumu. Bersama janji yang entah kapan akan kau tepati. Akan membawaku pergi dari sini. Bersamamu. Menempuh hidup yang baru.

Aku masih di sini. Menunggumu. Yang tak jelas kapan akan menampakkan batang hidung. Yang datang dan pergi sesuka hati. Seolah lupa ada hati yang rindu setengah mati.

Aku masih di sini. Menunggumu. Si primadona bertubuh molek. Sedikit larik kain yang menutupi sebagian kecilnya. Rambut hitam panjang mengembang sempurna. Tanpa riasan berlebih, selain bibir merah menyala menantang setiap mata. Duduk bak manekin di sebuah etalase. Berteman botol-botol hijau keruh dan beberapa bungkus rokok aneka warna, nama dan rasa. Juga tawa, lirik iri dan teriak genit dari beberapa kolega. Namun merasa sepi. Sendiri.

Aku masih di sini. Menunggumu. Walau tak terhitung berapa lelaki sudi menemaniku. Menuntutku melakukan ini dan itu. Menandak-nandak gagah atasku. Saling beradu nafas. Saling lumat tanpa batas. Berkubang peluh dan lenguh. Berharap kau yang ada di sini. Mendaki, mengerang dan mengejang kencang bersama. Bukan yang lain.

Aku masih di sini. Menunggumu. Berharap kau mengembalikanku jadi suci. Menghalalkanku bagimu. Walau semua tahu, mahluk kotor sepertiku tak layak mendapat surga.

Aku masih di sini. Menunggumu. Menghitung waktu. Dengan kumpulan ceceran kesabaran dan harapan yang ku pungut satu demi satu. Aku tahu. Tak satupun yang bisa menjamin akhir bahagia bagiku.

Aku masih di sini. Menunggumu. Tetap mencintaimu. Walau itu berarti siksa dan sia-sia. Karena mencintaimu serupa membangun istana pasir di bibir pantai berombak.

Aku masih di sini. Menunggumu. Berkalang benci. Pun bergelung rindu.

Kamu. Datanglah. Padaku.

Inspired by: Benci Tapi Rindu – Ello

Iklan

Sense of humor?

weheartit

Seorang teman yang jago menghidupkan suasana dengan humor-humor segarnya, tiba-tiba ‘bermasalah’. Guyonannya menyinggung salah satu teman yang lain.

“Eh, dia aja kali yang sensi! Semua juga tau kalo gue dari dulu kayak gini.”

Dan masalah itu masih berlanjut sampai hari ini. Setidaknya tidak ada yang merasa bersalah atau mau mengalah atau mengaku salah.

Susah-susah gampang ternyata. Buat saya, membuat semua orang happy itu mustahil. Minimal yang terjadi adalah semua merasa senang dengan level yang berbeda. Masalahnya adalah kadang kita tidak sadar apakah topik yang kita lontarkan akan menyinggung perasaan seseorang.

“Sebenarnya bisa diambil jalan aman. Tidak mengangkat tema yang sensitif seperti agama, ras, atau menyerang seseorang secara personal.”

“Tapi kadang menyerang seseorang secara personal justru bisa bikin heboh.”

“Itu beda kasus. Hanya bisa diterapkan kalau orang yang diserang sudah kita kenal dengan baik. Kalau belum, mending nggak usah, deh.”

Benar, kan? Susah-susah gampang.

“Ada baiknya kita kenal orang-orang yang ada saat kita akan melempar humor. Selain bebas dari gesekan, juga bisa lebih heboh.”

Itulah kenapa komedian harus punya kecerdasan di atas rata-rata, selain sense of humor yang ciamik.

 

For Writers

weheartit

“With writing, the way you feel changes everything.” – Stephenie Meyer

“In order to write the book you want to write, in the end you have to become the person you need to become to write that book.” – Junot Diaz

“You know what I did after I wrote my first novel? I shut up and wrote twenty-three more.” – Michael Connelly (on Castle)

“I don’t wait for moods. Your mind must know it has got to get down to work.” – Pearl S. Buck

“If you can quit, then quit. If you can’t quit, you’re a writer.” – R. A. Salvatore

“If it’s fiction, then it better be true.” – Sherman Alexie

“You have to be a reader before you can be a writer.” – Y.S. Lee

“Writing is like making love. Don’t worry about the orgasm, just concentrate on the process.” – Isabelle Allende

“Just start the sentence…and see what happens. This is how we write.” – Jincy Willett

“Either write something worth reading or do something worth writing.” Benjamin Franklin

“Write without pay until somebody offers to pay you.” Mark Twain

“If you wish to be a writer; write!” Epictetus

“Writing books is the closest men ever come to childbearing.” Norman Mailer

“Never write anything that does not give you great pleasure.” Joseph Joubert

“I love deadlines. I love the whooshing noise they make as they go by.” Douglas Adams

“Every writer I know has trouble writing.” Joseph Heller

“Of all that is written, I love only what a person has written with his own blood.” Nietzsche

“A writer is only half his book. The other half is the reader and from the reader the writer learns.” P.L. Travers

“The writer, when he is also an artist, is someone who admits what others don’t dare reveal.” Elia Kazan

“Even the best writer has to erase.” Spanish Proverbs

“Asking a writer what he thinks about critics is like asking a lamp post how it feels about dogs.” Ann Landers

 

“A critic is a man who expects miracles.” James Gibbons Huneker

 

“Writing is like a sport. You only get better if you practice.” Rick Riordan

 

“You can always edit a bad page. You can’t edit a blank page.” Jodi Picoult

 

“Behind every novel is a greater story of how it came to be published.” T.L. Rese

 

“It’s a choice, writing is. One that belongs to you and me. We get to choose it (or not) every single day.” Jeff Goins

 

“Be nice to your children. They may grow up to be writers.” Katerina Stoykova Klemer

 

“You know you’re a writer when the words don’t stop!” Joyce Middleton

 

“For me, writing is a love-hate relationship.” Larry Wall

 

“Even a day writing badly for me is 10 times better than a day where I don’t write at all.” Andre Dubus III

 

“Write the unpublishable…and then publish it.” Denis Johnson

Taken from Christian Simamora’s tweets

Gowes

weheartit

Minggu, 22.00.

Sepeda sudah mengkilat. Helm dan protector, lengkap. Jersey, bicycle pants, sepatu, sudah siap. Baju, sepatu dan perlengkapan kerja, telah menghuni ransel. Termasuk handuk didalamnya.

Tak kurang suatu apa.

Sekarang waktunya tidur.

*

Senin, 05.00.

Aku menuntun sepeda keluar garasi. Udara pagi memenuhi paru-paru. Kantuk tak punya nyali datang berkunjung walau perut telah terisi bertangkup roti. Awal yang cantik untuk mulai mengais rejeki.

Ku pasang earphone di telinga. Ku utak atik layar ponsel mencari play list bernada gembira. Ah, ini dia! Dan satu lagu pembuka yang sempurna.

 

Hey hey kawan bersiaplah

Waktu kita pun telah tiba

Mari kita bersepeda

Mari kita cerahkan hari

 

Aku menyusuri jalan dengan semangat. Tak perlu terpaku dengan belasan kilometer yang harus tercatat. Hanya rambu yang membuatku taat. Tak peduli pada rongrongan klakson, suara knalpot bolong, deruman gas maupun teriakan mengumpat. Toh jalanan belum terlalu padat.

 

Kayuh kayuh sepedaku

Oh tanpa sedikitpun ragu

Ku merasa hari ini

Indah dan kan cerahkan hariku

 

Bibirku ikut bersenandung. Masih terus ku kayuh, kayuh, dan kayuh. Tapi, kenapa tiba-tiba semua menjadi gelap?

*

Orang-orang berkerumun. Beberapa menjerit. Seorang pengendara sepeda tergeletak di sambar kereta api di perlintasan tanpa palang pintu.

Inspired by: Sepeda-RAN

 

Mental kere?

weheartit

Mari berandai-andai.

Andai kita adalah orang tua yang mempunyai anak perempuan yang sudah dewasa. Tiba-tiba, suatu hari ada laki-laki yang usianya tak beda jauh dengan kita datang dan berkata, “Saya ingin meminang puteri bapak dan ibu untuk dijadikan isteri ke empat. Daripada puteri bapak dan ibu tidak laku-laku dan jadi perawan tua. Sayang, kan?”

Baiklah. Mungkin cerita di atas terasa muskil, terlalu ‘sinetron’. Tapi itu hanya perandaian. Dan kalau benar terjadi, bagaimana perasaan kita. Kaget? Marah? Kesal?

Bisa jadi sama rasanya ketika seseorang datang pada saya dan bilang, “Selamat yah, baru launching buku baru. Minta satu, dong.”

Baiklah. Saya berusaha memahami. Bisa jadi yang bersangkutan sedang tidak ada dana untuk beli buku. Tapi ternyata, beberapa orang yang jadi perhatian saya, melakukan hal yang sama setiap kali buku baru saya terbit. Nah, lalu kalau begini apa namanya? Mental kere?

Adalah lain ceritanya bila pencipta memberikan karyanya kepada orang lain. Sebagai hadiah, tanda mata, atau ucapan terima kasih misalnya. Namun, bila seseorang meminta hasil karya dari penciptanya secara cuma-cuma dan kerap dilakukan, anda sudah berhasil menyakiti hatinya.

Bisa jadi benar kata salah seorang teman. Masih banyak orang yang tidak bisa menghargai hasil karya orang lain. Buktinya, pembajakan merajalela. Tidak hanya musik, software komputer dan buku, benda seperti tas, baju, sepatu, semua dibajak. Masa bodoh dengan hak cipta. Selagi bisa dapat yang murah, apalagi gratis, ayo saja.

Dan dari hasil observasi kecil-kecilan, mereka tersebar di semua lapisan. Tak terbatas oleh demografi, geografi dan lain sebagainya. Tak hanya yang berpendidikan rendah, yang tinggi pun banyak. Tak hanya dari golongan ekonomi menengah ke bawah, segmen A dan B juga tak terhitung jumlahnya. Kesimpulannya, merata.

Kalau kita berharap teman atau keluarga yang paling tahu dan mengerti sehingga lebih bisa menghargai hasil kerja keras kita, sepertinya mindset seperti ini harus di rubah. Tidak ada jaminan. Kadang ada orang yang tidak pernah kita kenal sebelumnya, justru lebih bisa menghormati karya kita. Orang-orang yang kadang membuat saya bingung. Begitu menghargai, mencintai dan loyal pada karya dari penciptanya. Buat saya, ini jauh lebih berharga dibanding dana yang sudah mereka keluarkan untuk membeli sebuah karya. Salut dan hormat saya bagi mereka.

Seperti banyak orang bilang, ada hikmah di balik setiap masalah. Setidaknya, setelah sekian lama, akhirnya saya tahu siapa saja yang bisa menghargai karya yang saya hasilkan. Pun orang-orang yang bertindak sebaliknya. Jadi, saya tidak perlu repot-repot menawarkan hasil kerja keras saya pada orang-orang tersebut. Buang waktu dan tenaga. Kecuali jika mereka sudah taubat kembali pada jalan yang semestinya.

Boikot

weheartit

Minggu lalu, ada sebuah ajakan datang ke saya di facebook. Mengajak boikot youtube. What? Ya, memboikot youtube karena sudah memuat film Innocence of Muslims. Ajakan ini berharap, semakin banyak yang boikot, maka rating pengunjung youtube akan menurun drastis dan akan berakibat pada turunnya harga saham mereka.

Dan, keputusan yang saya ambil adalah tidak menerima ajakan mereka. Bukan tidak membela agama sendiri. Lagipula siapa yang tidak marah ketika agama yang kita anut di cela orang lain? Tapi, saya tidak sepakat dengan cara dan tujuannya.

Begini.

Memang youtube memuat film Innocence of Muslims. Tapi apakah kita harus sampai memboikot youtube? Masih ada jalan lain, kan? Misalnya, mengirim surat/email berisi keberatan tentang adanya film tersebut di website mereka dan meminta untuk di hapus/di blokir karena memuat isu SARA dan menyakiti hati kaum muslim. Saya yakin mereka akan melakukan hal yang tidak akan merugikan siapapun, termasuk kelangsungan website mereka.

Selain itu, youtube adalah sebuah wadah, sarana, alat, untuk memuat video oleh siapapun, tentang apapun. Pihak youtube menentukan aturan yang harus ditaati. Semua yang di unggah tak boleh mengandung SARA, kekerasan dan pornografi. Pihak mereka akan memblokir jika terdeteksi ada yang melanggar aturan. So, kenapa harus menggunakan jalan keras?

Kenapa saya menggunakan istilah ‘jalan keras’? Karena jelas-jelas mengajak orang lain untuk melakukan boikot. Tahukah anda, di dalam situs youtube juga memuat cara membaca Al-Quran yang baik dan benar, hijab tutorial aneka model, resep dan cara memasak makanan sehat dan halal, dan masih banyak video yang bermanfaat lainnya.

Selain itu, tujuan memboikot youtube adalah agar rating turun dan berimbas pada harga saham. Well, apalah arti niat baik jika pelaksanaan dan tujuannya bertolak belakang. Taruhlah kita mengajak banyak orang memboikot. Tapi yakinkah bahwa akan banyak yang turut serta? Bisa saja yang terjadi justru lebih banyak orang yang search film tersebut karena pada awalnya tidak tahu atau tak ambil peduli. Ujung-ujungnya justru menaikkan pengunjung, kan?

Kalaupun berhasil mengajak banyak orang untuk boikot, sehingga tujuan akhirnya tercapai. Tidakkah anda merasa bersalah? Karena dengan turunnya harga saham dan lain sebagainya, berpengaruh terhadap perekonomian dan kehidupan banyak orang, yang bisa jadi mungkin tidak bersalah sama sekali. Nah, niat baik saja tidak cukup, kan?

Tapi ini murni sikap saya. Bagaimana dengan anda?

Lupakan Aku

weheartit

Kau imamku. Masih ingat itu? Atas nama segala hukum di dunia dan akhirat. Seluruh mahluk jadi saksinya dan tak ada yang menyangsikan. Semoga kau belum lupa.

Kau imamku. Pelindungku. Lalu apa arti semua lebam dan darah yang mengucur dari tempat yang tidak semestinya ditubuhku? Akan pulih seiring waktu. Namun luka hati, hanya Tuhan yang Maha Mengerti.

Kau imamku. Pengayomku. Pernah membanjiri dengan cinta. Masih ingat itu? Lalu mengapa kini bak seteru tak berkesudahan? Aku berusaha mencari kasih sayang yang mungkin terselip di ceruk hari. Namun tak juga kutemukan.

Kau imamku. Rajaku. Pun penjajahku. Tuntut aku lakukan apapun maumu. Bahkan untuk berkubang hina. Sejatinya apa salahku? Apa artiku bagimu?

Kamu imamku. Pemimpinku. Tapi aku tak sudi lagi jadi pengikutmu. Kau berbeda. Kau bukan yang dulu. Rasa itu telah pergi.

Kamu imamku. Dan untuk terakhir kalinya, aku berucap. Bila kita bertemu suatu hari nanti, jangan pernah tanyakan lagi tentang rasa yang telah mati. Karna kini, kau tak ubahnya sosok asing yang membawa banyak memori.

Kau imamku. Tapi maaf, kini ada yang telah kucintai lebih darimu.

 

 

Inspired by: Mungkin Nanti-Peterpan/Noah