Hijab

weheartit

4 September.

Hari solidaritas hijab sedunia. Setelah pemerintah Perancis mencabut larangan menggunakan hijab di sekolah dan kampus pada tanggal ini di tahun 2002. Jadi ingat ketika ibu ‘diikuti’ oleh pandangan mata security di keramaian Paris di musim gugur 1998. Hanya karena beliau berhijab.

Sedikit banyak saya mengikuti perkembangan hijab di Indonesia. Dulu, Ketika duduk di bangku SMA 20 tahun lalu (Ya..anda tidak salah baca. 20 tahun), sempat terjadi polemik ketika ada siswi baru yang berhijab. Alasannya, kalau mau berhijab jangan sekolah di sekolah negeri. Jujur, saya sempat bingung, apa hubungan antara berhijab dengan tidak boleh bersekolah negeri? Tidak ada korelasi. Ini soal agama dan keyakinan. Namun pada akhirnya, pihak sekolah negeri membolehkan siswinya yang berhijab tetap menuntut ilmu disana. Dan terbukti, tak ada masalah yang muncul kemudian.

Setelah itu, sepertinya tak muncul polemik yang berarti. Hijab berkembang pesat di negeri ini. Mengingat Indonesia penuh dengan orang-orang kreatif, jadilah perkembangan hijab bisa di bilang ‘tak terkendali’. Dari yang ‘hanya’ kain polos namun berhias accessories yang kerennya maksimal. Hingga hijab yang dahsyat karena bertabur bordir dan entah pernik apalagi. Belum lagi perkembangan terkini yang mengkreasikan selembar pashmina menjadi berbagai model yang memikat.

Beuh! Siapa bilang orang Indonesia tidak kreatif?

Saya bukan pemakai hijab, namun saya (mencoba jadi) pengamat dan pendengar yang baik. Perkembangan hijab yang cepat saat ini bukan berarti zonder masalah. Beberapa komunitas yang membawa gaya hijabnya sendiri, cenderung jadi ‘militan’ dan menganggap pemakai hijab yang ‘tidak sama’ dengan mereka telah membuat kesalahan.

Nelangsa. Kenapa? Karena kejadian 20 tahun lalu terulang lagi. Bedanya, kini beberapa komunitas yang saya ceritakan berada di posisi atas. Mayoritas. ‘Berkuasa’. Ada yang menganggap pengguna hijab yang tidak panjang tidaklah syar’i (sesuai ajaran agama). Pun ada yang komunitas yang menganggap pengguna hijab yang tidak mengikuti trend, amat sangat ketinggalan jaman.

Sejatinya, minoritas adalah mayoritas yang dikotak-kotakkan. Ini yang terjadi pada komunitas-komunitas yang saya ceritakan di atas. Tak ada bedanya dengan memecah-belah keluarga sendiri. Kenapa tidak fokus pada yang lebih penting? Mengajak lebih banyak muslimah untuk berhijab, misalnya. Daripada memandang sebelah mata orang lain yang ‘berbeda’. Bukan berarti yang mereka lakukan tidak penting. Tapi ada yang jauh lebih penting. Saya rasa.

Saya tidak berhijab, setidaknya sampai saat ini. Tapi saya menempatkan perempuan-perempuan yang Lillahi ta’ala berhijab di posisi yang tinggi. Tak peduli dia lebih tua atau lebih muda dari saya. Saya menaruh harapan besar pada mereka. Menjadi perempuan mulia dan contoh untuk diri sendiri, keluarga, negara dan agamanya. Tanpa harus memandang rendah orang lain.

Semoga perkembangan selanjutnya akan jauh lebih baik lagi🙂

 

2 thoughts on “Hijab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s