Nggak sekalian?

weheartit

Sebuah benda bujur sangkar pipih tersulur di atas meja. CD Ari Lasso.

“Tadi ditawarin mbak di kasir. Ternyata CDnya Ari Lasso di jual disini. Ada Slank juga. Rossa, Agnes Monica.”

Seorang teman berbicara sambil mengunyah ayam crispy-nya. Bukan barang baru, kalau di setiap gerai fast food ayam Amerika ini kita juga bisa membeli CD musik. Dan hanya bisa didapatkan disini, bukan di toko musik.

“Tambah lama kayaknya tambah banyak yang jual CD disini. Mana artis-artis senior pula.”

Dia masih mengunyah. Iya juga. Tapi kira-kira apa pertimbangan para artis dan labelnya untuk ‘titip jual’ hanya disini, ya?

“Soalnya disini tempat makan…”

Dia mencocolkan daging ayam ke saus sambal.

“Semua orang pasti makan. Dan fast food ini sudah banyak pelanggan. Kalau setiap pelanggan yang transaksi, baik dine in, take away maupun delivery order ditawari untuk beli CD, apa kemungkinan yang muncul?”

“Yaaa…paling nggak jadi tau kalo album si A udah keluar dan dijual disini.”

Exactly! Kayak aku tadi. Yang tadinya nggak tau, jadi tau. Ujung-ujungnya pengin beli. Apalagi kalo dia ngefans sama artisnya.”

“Tapi kan nggak semua akhirnya mau beli?”

“Iya, sih. Tapi nggak sedikit juga yang awalnya cuma mau makan, akhirnya jadi beli CD juga.”

Dia menyeruput soft drink dingin.

“Coba bandingkan kalo CD hanya dijual di toko musik. Nggak setiap saat kita ke toko musik. Harus diniatkan mau kesana. Beda dengan tempat makan.”

Saya manggut-manggut.

“Tapi ternyata ada juga yang menganggap jualan disini itu ‘nggak berkelas’. Nurunin gengsi si artis dan musiknya. Sah-sah aja, sih. Pendapat orang kan macam-macam. Tapi ini bisnis, kan? Dan bisnis itu cari profit. Sejauh CD yang dijual itu original, karya si artis, dan tidak memaksa untuk dibeli, kenapa enggak?”

Kami kembali menekuni piring masing-masing.

“Keren kali ya, kalo disini juga jual buku…”

Dia terbelalak.

“ Whoaaa! Ide keren itu! Terus komunitas-komunitas pembaca dan penulis buku jadi sering kumpul disini. Bedah buku, sharing, gathering. Jadinya bisa simbiosis mutualisme sama restonya. Terus…”

Saya nyengir. Dia memang penggila buku.

2 thoughts on “Nggak sekalian?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s