Apa Maumu?

weheartit

Ini cerita tentang dua orang teman saya. Dan mereka saling kenal satu sama lain, walau tak terlalu akrab. Mereka hidup di dunia yang berbeda. Namun, sejatinya mereka punya satu kesamaan.

Sama-sama punya cita-cita yang tinggi.

Teman pertama, berasal dari keluarga berada. Cerdas, berkarir cemerlang, berpendidikan tinggi. Intinya, hidupnya adalah impian banyak orang. Hingga tiba-tiba dia menghubungi saya.

“Mbak, kalo punya info scholarship di luar negeri, kabar-kabari, yah.”

Weits!

Master, Dek? Mau dimana?”

“Iya, Mbak. Inggris, Amerika, Australia, pokoknya yang pake bahasa Inggris, deh. Bisanya cuma itu, sih.”

Dan kisah selanjutnya bisa di tebak. Setiap ada info beasiswa luar negeri yang sesuai dengan keinginannya, langsung saya forward. Pun dia dengan kegigihannya, berusaha menembus semua kesempatan di depan mata. Gagal berkali-kali, dan berkali-kali pula dia bangkit lagi. Salut saya padanya setinggi langit.

Hingga tiba-tiba saya kehilangan kontak dengannya. Pun gara-gara kesibukan yang saling berkejaran. Sampai suatu hari, selembar foto terlampir dalam email yang tertuju untuk saya. Fotonya, berlatar London bridge.

WOW! Dia berhasil!

Setelah satu semester bertahan dan beradaptasi, dia baru mengabari saya. Berkutat dengan text book dan kerja paruh waktu, semakin membuat saya angkat topi. Dia dengan segala kemapanannya, masih mau berusaha dari bawah dan tak kenal lelah juga keluh.

Teman kedua, berasal dari keluarga yang bertolak belakang dengan teman pertama. Hidup di perkampungan sempit. Sulung dari tiga bersaudara. Dan sejak ayahnya berpulang beberapa tahun lalu, dialah tulang punggung keluarga.

Lalu apa istimewanya? Yang membuat saya salut adalah dia tidak melupakan, apalagi meninggalkan cita-citanya menjadi musisi.

Dia kerja banting tulang setiap hari. 24 jam terasa kurang buatnya. Beberapa pekerjaan dia lakukan bergantian, demi keluarganya. Apapun, asalkan halal. Dan di sela-selanya, masih menyempatkan latihan band bersama teman-temannya. Juga mengamen di perempatan jalan, tempat dimana saya sering bertemu dengannya.

“Sewa studio buat latihan kan mahal, Mbak…”

Itu salah satu alasan dia ngamen. Selain dapat uang tambahan untuk kelangsungan bandnya. Dia hanya sewa studio untuk keperluan latihan bila ada perlombaan saja.

Semuanya dijalani seiring sejalan. Tanpa keluh. Saya hanya bisa membantunya dengan meneruskan ifo-info tentang lomba band dan lowongan pekerjaan yang sekiranya cocok untuknya. Juga dengan doa, tentu saja.

Sampai suatu kali, saya bertemu dengannya, dengan dandanan yang sangat berbeda. Rapi, bersih dan formal.

“Mbak, saya sekarang sudah jadi pegawai tetap.”

Wajahnya sumringah. Saya jabat tangannya erat. Ucapan selamat dan syukur meluncur bertubi.

“Tapi saya tetep minta doanya, Mbak. Hari Minggu lusa, band saya harus tampil di babak final.”

Double Surprise! Saya sanggupi permintaannya.

Beruntungnya saya punya teman seperti mereka. Mau berjuang untuk menjadi yang mereka mau, yang mereka cita-citakan. Menginspirasi, tanpa jadi menggurui. Bahwa keinginan baik yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh dan disertai doa, tak ada yang mustahil.

Sekarang, bagaimana denganmu? Apa maumu? Sudah kau perjuangkan?

4 thoughts on “Apa Maumu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s